Saturday, December 13, 2014

Ketika Tiu Membenci Namanya Sendiri


Cuma sedikit orang yang tahu kenapa Tiu ngga terlalu doyan perempuan.

(dan cuma sedikit juga orang yang bisa  mencerna  istilah ‘doyan’ perempuan.  Emanknya perempuan emping melinjo)

Ibu adalah sosok indah yang harusnya di muliakan.  Bahkan nabi-nabi merekomendasikan hal tersebut.

Ibu bagaikan mentari yang hanya memberi dan tak harap kembali, yang di bawah telapak kakinya bersemayam surga.

Tapi  perjalanan sejarah manusia melukiskan betapa banyak wanita yang  harusnya mendapat kehormatan seperti itu, justru mempermalukan dan membuat dunia menangis.

Sayangnya, satu dari wanita tersebut  adalah ibu Tiu.

 

-----------------------000----------------------

Waktu Tiu SMP kelas dua pertengahan, ketika pulang sekolah, dia ngeliat motor bokapnya di depan rumah.  Ngga biasanya.  Karena jam segitu harusnnya di kantor.  Sambil ngendap-ngendap, Tiu masuk dari dari dapur tanpa menimbulkan keributan.  Di dapur sempitnya dia ngeliat bokapnya duduk di lantai sambil nyiumin tangan ibunya yang duduk di bangku dengan ekspresi datar.  Walau muka bokapnya telungkup di punggung tangan ibunya tapi Tiu yakin bokapnya lagi nangis, coz punggung tangan ibunya basah.

Tiu heran sangat.  Pasalnya, sejak dia ngerti hidup, dia baru 2x ngeliat bokapnya netesin air mata.  Pertama waktu di depan peti om Albert, sahabat kentalnya yang meninggal karena serangan jantung, dan kedua oma, ibunya bokap yang meninggal 4 tahun lalu.

Dunia bagaikan terbelah 114 waktu Tiu tahu persis persoalannya.  Ternyata ibunya udah 5 bulan lebih selingkuh sama bekas pacarnya waktu SMA.  Dan saat itu ibunya ngomong ke bokap bakal pindah ke Bali ngikut selingkuhannya yang sering ngerjain proyek di sono.  Dalam bahasa yang bisa Tiu pahamin, nyokap minta cerai karena ngga tahan sama hidup yang pas-pasan, karena bokap cuma sopir truk sampah.

 

Hormon kelaki-lakian Tiu yang mulai bergejolak, membara, dan menyeruak menembus batas logika manakala menatap indahnya gemulai  wanita, redup perlahan.  Dendam dan amarah memenuhi jantung dan rongga paru-parunya yang berusaha mengeja kata cinta.

Baginya, lagu-lagu manis yang berkisah tentang cinta hanyalah bualan sakit jiwa

-----------------------000----------------------

 

Waktu muda,  Simon, bokapnya, adalah pria ganteng yang suka gonta-ganti pacar.  Anehnya, kebiasaannya langsung berhenti total waktu pacaran sama Yanti, ibunya, hingga akhirnya  nikah.

Tiu sangat menghormati bokapnya yang walau cuma sopir truk sampah, tapi ngga lantas nyerah gitu aja untuk menambah pendapatannya.  Tiap pagi bokap bangun jam 4 buat bikin bubur kacang ijo, trus di jual sampe jam 06.30, sebelum berangkat ke kantor.  Trus setiap habis kerja, bokap ngojek sampe malem.  Energinya seolah ngga pernah abis buat kerja.

Sebagai anak-anak, Tiu ngga pernah nyadarin kalau apa yang di lakonin bokapnya adalah sebuah perjuangan keras, karena di otaknya, hal begitu adalah lumrah yang juga dikerjakan banyak bapak-bapak, hingga dia tumbuh dan menyaksikan betapa ibunya  kurang mendukung semangat juang bokap.  Makanya dia sering bingung sama kata-kata yang sering dia denger: ‘slalu ada wanita hebat di samping pria sukses’ 

 Mulanya dia juga berpikir kalau apa yang dilakonin ibunya dalam keseharian juga sesuatu yang biasa di lakukan ibu-ibu lain: bangun tidur jam 08.00, dan langsung nongkrong di depan TV sambil nyeruput teh yang udah disguhin bokap, terus mandi, nggosok kutex, lalu nyatronin sekumpulan ibu-ibu lain yang ngga jelas bikin apaan (yang pasti ngga lagi mandiin tuyul, ato ngorek kuping singa baru beranak). 

Lantaran dari kecil Tiu besar dengan perspectif ibu selalu mulia, jadi ngga pernah sedikitpun disadarin kalo  apa yang di lakonin ibunya udah bukan lagi sesuatu yang normal.  Apalagi kalo ditambah efek-efek keagamaan. Mana berani  nuduh ibu sebagai ngga lagi mulia.

Setelah kejadian yang dialamin bokapnya-lah baru Tiu sadar kalo sebenarnya pria sama wanita tuh ngga ada bedanya.  Karena di jaman ini, kejahatan terjahat dan kebaikan paling agung ngga dibatasin sama apa yang namanya jenis kelamin.  Wanita yang yang lebih biadab dari iblis sama banyaknya sama pria berhati malaikat.  Dan jumlah pria paling bejat kadar cabulnya, selalu diimbangi oleh wanitanya.  Hehehe,...emangnya pria dibilang cabul lantaran mencabuli roller coaster.  Emangnya pria yang doyan selingkuh, selingkuhannya Xenia matic.  Hehehe,....oli matic, sehidup semetic kaleee.

Temen Tiu pernah cerita ketemu perempuan secantik barby yang super alim.  Bantal tidurnya aja  kitab suci, pendiem, dan sekali ngomong kata-katanya penuh muatan pasal dan ayat di kitab suci.  Pokoknya tipe wanita agung  yang di dambakan  banyak laki-laki sebagai bakal ibunya anak-anak.  Simpelnya, cuma pengen pegang tangan aja temen Tiu keringetan lantaran takut ngotorin kesucian si barby.  By the way, astaga naga, baru dua hari jalan bareng, si Barby dengan kesadaran dan penuh ke ikhlasan, rela nyopot celana dalemnya sendiri waktu di ajak muter-muter sama mobil X-Trail bokapnya waktu ngelintasin perkampungan yang juga kebetulan lagi sunyi.  Barby nuntun tangan temen Tiu merambahi areal gelap di antara dua paha mulusnya.  Perut temen Tiu mual tiba-tiba.  Parahnya lagi, si-‘otong’ di dalem celananya yang jarang banget terkulai, malah kisut tanpa alasan selama ampir dua minggu.  Ekpektasinya tentang sosok wanita agung langsung nyungsep ke titik nadir.  

Harusnya kan emang bukan keanehan kalo di jaman edan ini masih banyak pria yang pengen percaya kalau wanita agung dan mulia bukanlah mahluk langka yang hampir punah kayaq Komodo.  Terlepas dari layak atau tidaknya pria itu sendiri berharap seperti itu.  Loh, bukankah hukum alam sudah menetapkan seperti itu ?  Dan kita semua tahu akibatnya kalau ingin menentang hukum alam.

Mungkin itu sebabnya kalau gonjang-ganjing kesetaraan gender tetap kedengaran aneh.  Karena kesetaraan yang paling setara ada ‘ketidak setaraan’.  Dari dulu pria tahu di mana posisinya.  Makanya tuntutan kaum wanita akan kesetaraan gender justru membuat jurang yang tidak pernah, dan seharusnya memang tidak ada.

Tanpa bicara embel-embel agama-pun, hewan jantan dan betina yang tinggal di hutan tahu tugas dan fungsinya masing-masing.  Ah, tapi kan kita bukan hewan.  Oke,..oke,..kita manusia.  Trus, bagaimana kita harus mengistilahkan manusia yang melahirkan, dan yang tidak melahirkan ? Apakah manusia yang melahirkan bisa melahirkan kalau dibuahi juga oleh manusia yang melahirkan ?  Tuh kan, hukum alam ngga bisa dilawan.  Karena mau ngga mau, kita harus memberikan nama atau anggaplah istilah sebagai yang melahirkan, dan yang membuahi sang pelahir.

Karena kesetaraan yang paling setara adalah ‘ketidak setaraan’.  Ada pria, dan wanita untuk membuat alam berjalan sesuai hukumnya.  Tuntutan kesetaraan adalah upaya melawan kesetaraan itu sendiri. 

Bukankah tanpa penuntutan, wanita bisa jadi apa yang wanita inginkan bagi dirinya sendiri ? 

Gonjang-ganjing tuntutan kesetaraan hanyalah bentuk kegelisahan semu yang tidak sabar menanti jalannya waktu untuk menjadi seorang Mentri, Profesor, Doktor, Presiden, atau Ratu.

 

-----------------------000----------------------

 

Tiu ngga pernah ngerasa begitu terenyuh sampai dia dapet 4 lembar surat bokapnya buat nyokap, waktu  dia ngumpulin surat, dokumen, dan semua perlengkapan bokapnya sebelom ninggalin rumah yang dengan ikhlas dia serahin ke nyokap.

Surat-surat tersebut dikasih bokap tiap HUT nyokap, walau kelihatannya udah bekas di remas-remas, dan dirapihkan lagi.

 

Surat ke satu

Dear Yanti,

Malam ini adalah tiga hari sebelum HUT kamu ke 22.  Uh, betap susahnya nyusun kata demi kata yang bisa ngungkapin apa yang kurasakan njalanin hari demi hari dengan kamu.  Bahagia bahkan terasa sangat sederhana.  Karena masih sulit ku percaya kalau aku akan menjalani indahnya hari-hari ke depan sambil mengagumi,  mencintai, dan memuja  kamu seumur hidupku.

Rasa syukurku pada Tuhan tak kan habis karena anugerah terindahNya berupa dirimu.



Surat kedua

Yanti tercinta,

Malu sebenarnya ngungkapin ini ke kamu.  Tapi aku mau selalu terbuka sama kamu.  Tadi aku nangis waktu denger jeritan bocah ganteng kita di ruang bersalin.  Kamu adalah  wanita sempurna seumur hidupku.  Kau telah mempertaruhkan nyawamu untuk duniaku. Ah, kamu memang luarbiasa.  Bahkan saat ngasih nama buat putra pertama kita, Matius Leonard Tambanawung.

 

Tiu ngga pernah nyangka bakal membenci namanya sendiri sejak itu.  Karena namanya adalah pemberian ibunya.  Dan Leonard adalah nama bekas pacar ibunya.

Ibunya adalah sosok yang harus belajar arti ‘lahir baru’

 

Ketika kita sadar bahwa kehidupan tidak berjalan sebagaimana yang kita harapkan, sadarilah bahwa harapan itulah keindahan yang tidak boleh kita lepaskan.

 

(nama, tempat dan kejadian cuma fiktif.  Kalo kebetulan sama, cuma kebetulan...)

No comments: