Friday, June 28, 2013

ASYIK DENGAN DUNIA MASING-MASING



Kita udah sering denger dong kalimat begitu.  Yup, hampir pasti kalimat tersebut sedang menggambarkan suatu situasi di mana sekumpulan orang di sebuah tempat, ato ruangan yang lagi sibuk dengan aktifitasnya sendiri-sendiri.  Emang sich ‘ke-asyikan dengan dunia masing-masing’ tersebut ngga bisa dengan serta-merta kita klaim sebagai saling berkaitan, atau bisa dihubung-hubungkan.  Kalo keasyikan tersebut  terjadi di ruangan kantor, pastinya semua bisa saling terkait.  Tapi kalo di terminal, ato di kereta, jelas ngga saling bertautan.  Cuma kebetulan aja mereka terkumpul di situ.

Asyik dengan dunia masing-masing adalah sebuah permainan kosakata yang lebih dimknakan pada aktifitas dan kesibukan, bukan untuk mendeskripsikan sekumpulan mahluk dunia lain yang ngumpul bareng dan melayang-layang dalam kesahajaan ‘dunianya’.  Bukan kisah Kuntilanak yang asyik dengan kekuntilakannya, jin dengan dunia jinnya, designer dengan coretan-coretannya, ato penulis dengan potongan-potongan imaginasinya.

Cuman seiring guliran waktu, entah kenapa kalimat ‘asyik dengan dunia masing-masing’ seolah jadi kutukan yang mengejahwantah sebagai kisah nyata: ramalan yang digenapi.  Astaga......

Kan udah bukan dongeng lagi kalo sebuah organisasi, institusi, ato lembaga yang semula di bangun dengan idealisme, dedikasi dan harapan penuh aroma bunga, kini diperhadapkan pada fakta  di mana personilnya justru bener-bener ‘asyik dengan dunia masing-masing’ dengan kiat saling incar, saling terkam dan saling memanfaatkan, hingga akhirnya luluh lantak secara perlahan.

Siapa yang ngga tahu kalo Rumah Sakit di bangun dengan tujuan mulia: membantu menyembuhkan orang sakit.  Tapi siapa juga yang ngga tau kalo sekarang banyak pengelola Rumah Sakit yang justru asyik dengan dunianya masing-masing, demi keuntungannya masing-masing, hingga Rumah Sakit tak ubahnya sebuah Perseroan Terbatas yang berfalsafah: kalo miskin jangan sakit.

Siapa yang ngga tahu kalo Universitas yang semula dibangun untuk mencerdaskan anak bangsa, justru dijadikan  tambang emas para pengelolanya karena perspectif asyik dengan dunia masing-masing, hingga lahir sebuah paradigma: pendidikan tinggi hanya milik kaum ‘the have’

Siapa yang ngga tahu betapa mulianya Lembaga Dewan Perwakilan Rakyat, tapi berubah laknat karena memikirkan dunianya masing-masing ?

Tapi yah begitulah dunia kita.  Dunia yang selalu punya stok kosa kata berlimpah, dan membuat kita asyik dengan dunia masing-masing.


Bitung, 28 Juni 2013.  Ketika sebuah kisah berakhir, sekaligus bermula.

Rest In Peace at 19 June ‘13.  My bos sister: Lince Worang.

2 comments:

^_^ said...

Saya bingung mengomentari tulisan ini (yang pasti gak butuh komentar saya), tapi berhubung saya kepingin menunjukkan bahwa tulisan ini sudah pernah dibaca maka saya menuliskan komentar yang tidak penting ini..... (lagi kehilangan kata2 soalnya, harap maklum)

PS: Si penulis komentar mata kepiting itu saya juga ;)

Nibor Ticoalu said...

ngga apa. yg penting udah 'mampir' mbaca. btw, saya ngga harus manggil anda sbg kepiting toh ? hehe...