Saturday, January 5, 2013

STREET JUSTICE,.. SOLUSI KONTRA KRIMINAL....??



Beberapa waktu lalu di rumah salah satu teman, gue terlibat pembicaraan ‘konyol’ yang sedikit serius menyangkut maraknya angka kriminalitas di Manado (khususnya), dan Indonesia secara umum.

Per-ngobrol-an ini dimulai oleh rasa geram salah satu teman (sebut aja, Moty) saat membaca surat kabar tentang tewasnya anak umur 8 tahun karena wajahnya remuk di hajar penjahat yang ingin merampok bapaknya yang lagi mengendarai motor.  Si-bocah duduk di depan.

Penjahatnya kalo ke tangkep paling bagus di potong kaki sama tangannya, terus di biarin di tengah jalan keabisan darah.  Manusia model begitu ngga pantes dibiarin hidup.  Ato, kita bentuk komunitas kontra kriminal yang terdiri dari gabungan Polisi, Brimob, Densus 88, Kopassus, juga TNI yang udah terlatih kayaq di film-film Amerika, yg namanya Street Justice, untuk mensapu bersih para penjahat di seantero negri ini.”  Suara Moty jelas dirasuki amarah.
Gbr diunduh dari google

Kalo gitu, apa bedanya kita sama si-penjahat ?” Janggo menimpali sehabis nyeruput jamunya.

Kamu bisa ngomong begitu karena kamu bukan keluarga korban.  Bisa ngga kamu ngomong begitu ke orangtua si-bocah yang tewas, ato ngomong ke keluarga perempuan yang diperkosa di dalem angkot beberapa waktu lalu.  Jangan-jangan malah kamu yang disiram air panas sama mereka.  HAM ? cuuihhh,...itu sampah  Moty kliatan tambah panas.

Cuma orang gila yang ngga geram and benci sama penjahat-penjahat yang seenak udelnya ngerampok, merkosa, bahkan mbunuh orang lain.  Jujur aja, aku juga sering  punya pikiran kayaq kamu setiap liat sepak terjang para penjahat.  Saweran sama komunitas sepaham membentuk tim pembasmi penjahat, ato street Justice, yang mbakal ‘membersihkan’ semua penjahat sampe ke akar-akarnya.  Tapi setelah aku pikir-pikir, bakal gimana jadinya kalo kita juga meligitmasi pembunuhan. Kalo kita nyebut mereka penjahat, trus kita apa, Malaikat pencabut nyawa penjahat ?  Sejak kapan Tuhan memberikan mandat kepada manusia untuk memusnahkan manusia lainnya ?  Kalo gitu, knapa Tuhan ngga melakukan pake tanganNya sendiri ? Kan cuma akal-akalan kita aja yang kelewat sombong, hingga merasa punya hak untuk membunuh orang lain dengan berbagai alasan.
Negara kita ini kan negara hukum, jadi kita harus percaya kalo Hukum di negri ini bisa memayungi dan memberi rasa keadilan pada masyarakat.  Kan sejahat-jahat dan sekejam-kejamnya orang, bukan berarti kita bisa dengan semena-mena membunuhnya, seperti kita mites, ato mencet kutu.  Terlepas dari mereka udah ‘merampas’ hak hidup orang lain, mereka juga punya Hak sebagai manusia.”  Ardi berusaha menetralisir suasana dengan pengetahuan hukum, di mana ia adalah sarjana di bidang itu.

Sory nich Di, menurut aku, justru orang-orang di dunia Hukum-lah salah satu penyebab lebih menjamurnya kejahatan dan kriminalitas di negri ini.  Dunia hukum tidak memayungi, apalagi memberi rasa keadilan pada masyarakat, tapi memayungi  penjahat serta kejahatan-kejahatannya.  Keadilan cuma untuk  mereka-para penjahat.  Coba kasih pencerahan ke kita-kita di sini, bagaimana kamu bilang Hukum memayungi dan memberi rasa keadilan pada masyarakat, kalau faktanya penjahat yang jelas-jelas membunuh sambil di saksikan beberapa pasang mata, masih di bela mati-matian sama manusia bejat yang namanya pengacara, ato advokat...!!” Moty tersenyum sinis sambil menghisap rokoknya.

Yah itu terserah sudut pandang kamu, tapi pada prinsipnya, pengacara itu bukan membela orang yang di duga bersalah, apalagi membela kesalahan-kesalahannya.  Bukan begitu.  Itu persepsi yang tidak tepat.  Mereka hanya memberikan nasihat hukum, sambil mencari fakta-fakta yang sebenarnya telah terjadi.  Saya gampangin aja ceritanya.
Misalnya kamu Moty, di sebuah tempat yang sepi, di jegat penjahat berpisau.  Lalu dalam sebuah pergulatan, kamu yang sedang membela diri, tanpa sengaja menyebabkan si penodong tewas.  Ketika pisau masih di tangan, tiba-tiba datang dua orang yang melihat kamu memegang pisau yang berlumur darah, dengan sesosok mayat.  Pertanyaannya, dapatkah kamu membela diri kamu sendiri di hadapan Polisi, Hakim, Jaksa untuk meyakinkan mereka kalau kamu hanya membela diri, jika faktanya ada dua saksi yang melihat kamu memegang barang bukti yang menyebabkan korban terbunuh ?  Pasti tidak kan.  Nah, di posisi itulah kamu butuh orang yang dilegitimasi oleh dunia Hukum, serta bisa kamu percaya untuk membuka tabir yang sebenarnya terjadi.
Coba kamu posisikan dirimu duduk sendirian di kursi pesakitan dengan semua mata memandangmu sebagai pembunuh kejam, tanpa seorangpun yang menemani untuk berusaha meyakinkan kalau kamu hanya membela diri.
Nah, dalam posisi itu, apakah kamu akan berkata kalau pengacara itu bejat, jika karenanya kamu bebas dari tuduhan, atau setidaknya hukuman kamu jadi jauh lebih ringan dari yang seharusnya ?” Ardi tersenyum arif.

Yah, untuk kasus yang kamu bilang emang ada benernya, cuma aku tetap pada prinsip bahwa kita perlu Tim khusus rahasia itu. Kalo kamu gimana Bin ?” Tohokannya yang tiba-tiba mengarah ke gue membuat gue gelagapan, karena belom siap dengan perisai pelindung.

Jujur, gue ngga mau dong ada anggota keluarga yang jadi korban, supaya setuju sama usul loe.  Aduh, jauhkan deh Tuhan.  Tapi kalo di suruh aklamasi setuju ato tidak setuju pembentukan tim street justice guna membunuh para penjahat, terus terang gue ngga setuju.  Karena buat gue, itu bukan satu-satunya jalan keluar untuk meminimalisir, ato menghilangkan kejahatan.  Selain bener kata Ardi and Janggo, bahwa akhirnya kita malah lebih jahat dari penjahat yang kita bunuh secara tidak langsung karena menyetujui tim street justice, kan bukan tidak mungkin kalau suatu ketika anggota tim street justice yang udah kebiasaan membunuh ini malah kebablasan bunuh sana-sini tanpa tedeng aling-aling karena ‘keasyikan.’  Dan bukan mustahil juga kalo keahlian mereka justru di manfaatkan oknum berduit untuk membunuh lawan-lawannya.  Entah lawan politik, atau saingan dagang.  Inget ngga sama pembunuhan Gali dulu, di mana para street justice yang ngga pernah diketahui identitasnya membantai satu demi satu penjahat-penjahat, dan membuang mayatnya ke kali ?  Apa masalah selesai ?  Ngga man.  Malah kalo ngga salah informasi, beberapa anggota tim ada yang bunuh diri lantaran sakit jiwa karena merasa di kejar-kejar bayangan yang balik pengen mbunuh mereka. 
Bukan itu aja, lantaran tim street justice cuma terfokus di satu wilayah, banyak penjahat yang malah migrasi ke daerah lain, dan melakukan kejahatan di daerah baru.  Konyol toh? Ibarat Waralaba, di tutup di satu tempat, malah buka cabang lebih banyak di daerah lain.  Daerah yang tadinya aman, malah kecipratan getahnya....”  Gue kebingungan sendiri, darimana dapet kata-kata begitu.
Gbr diunduh dari google juga

Bener skali Bin, saya setuju sama perspectif kamu.  Pada masa penjajahan dulu, kan di mata penjajah semua bentuk perlawanan adalah benih kriminal yang harus di basmi supaya ngga ‘menular’ ke jajahan lainnya.  Tapi di mata sesama kaum terjajah, para pembangkang adalah pahlawan yang kelak dihormati anak cucu.  Pertanyaannya bukanlah kenapa mereka membunuh para penjajah secara sembunyi-sembunyi sehingga diapandang sebagai kriminal, tapi kenapa mereka-para penjajah- menjajah hak-hak yang sama sekali bukan haknya.  Dan ngga ada salahnya kalu kita juga bertanya, kenapa penjahat-penjahat itu jadi penjahat ? Bukannya malah mengambil jalan pintas dengan membunuhi mereka.  Harusnya, kita yang ‘merasa orang baik’ percaya kalau ngga ada manusia yang lahir untuk jadi penjahat.  Ada terlalu banyak faktor yang perlu di kaji lewat pendekatan sosiologis, atau psikologis.”  Ardi berusaha menyeimbangkan.

Jadi menurut kalian, kita diem aja melihat negri ini terus di rongrong penjahat ?” Moty menggelengkan kepalanya.

Bukan begitu maksud Ardi sama Robin.  Seluruh masyarakat harus terlibat bahu membahu memerangi kejahatan.  Mengawal jalannya supremasi hukum. Bukan semata fokus pada si-pelaku kejahatan yang harus mempertanggung jawabkan kejahatannya di depan hukum, tapi juga sumber dari kejahatan itu berasal.  Kemiskinan dan kesenjangan sosial misalnya,   ato sempitnya lahan pekerjaan yang menyebabkan tingginya angka pengangguran.  Kita adalah mahluk yang punya naluri untuk bertahan hidup.  Kalo seseorang kelaparan, kan dia musti cari jalan untuk makan.  Entah minjem duit, ato kerja serabutan.  Tapi kan ngga jarang orang yang seolah udah ngga punya jalan keluar, hingga akhirnya nekat nyolong di supermarket misalnya.  Jelas itu salah dong.  Dan ngga perduli lapar sebagai alasan, masyarakat ngga bakalan bisa terima tindakan begitu.  Tapi kalo pake konsep street justice, seperti yg nt saranin, berarti dia juga musti di basmi dong.  Di bolongin jidatnya pake peluru tajem, cuma lantaran ngambil sepotong roti.”  Janggo senyum ke Moty.

Ya udah, ayo kita abisin nich kopi.  Udah dingin....!!!” Moty ketawa kikuk.

Mmmhhhh,.....Street Justice ?  Absolutely Not.....

What do you thing ????

STOP PERANG DAN KEKERASAN DI SELURUH INDONESIA, HINGGA KE UJUNG BUMI....!!!   

6 comments:

petzo said...

i'm a sadomasochist person .
so , what can i say .....

Anonymous said...

Ada berapa tulisan kamu yang asyik. Tapi khusus yang ini sory. Buatku sampah. Penjahat sekarang sudah bukan penjahat sembarangan. Tapi mereka orang sakit jiwa. Mereka membunuh hanya bagaikan permainan belaka. Psikopat-psikopat yg harus di musnahkan tanpa pertimbangan apapun. Buatku, ular berbisa, tidak perlu di elus-elus. Mereka malah melunjak. Basmi hingga ke akar-akarnya. Tapi membaca tulisan kamu sebenarnya menginspirasi untuk merealisasikan ide STREET JUSTICE.

zlm khnal

'friend' said...

Whatever you say, I think we need street justice. I would say YES if someone ask me to be part of it.....

Hukum di Indonesia tidak lagi mampu melindungi masyarakat. Penjahat amatiran yang tertangkap mencuri telpon genggam justru jadi 'pahlawan' di media TV ketika dia bilang ke TV crew bahwa "Anak saya butuh susu". OMG..... Hari ini nyolong telpon genggam, bulan depan harga telpon genggam gak mampu lagi memenuhi kebutuhannya. Saya sering mengamati pemulung di bak sampah samping Sekolah Katolik yang di Jl Samrat, saya kagum pada kerjaannya (yg sudah saya amati bertahun2). Suatu hari waktu jalan ke daerah kampus, saya ketemu seseorang dengan profesi yang sama dan saya berhenti sejenak menanyakan berapa harga botol bekas air. Saya kemudian berpikir, kalo orang2 seperti mereka mampu mencari uang dengan cara seperti itu, apa kita rela hidup diantara para penjahat (yang mungkin salah satu korbannya adalah orang2 seperti pemulung plastik itu).

Nibor Ticoalu said...

petzo,..yg penting nt udah koment, and skrg saya udah tau kalo nt menggelikan...hiiii

Nibor Ticoalu said...

anonym. jadi udah mau buka pendaftaran dong...?

Nibor Ticoalu said...

'friend'..emang bener orang bilang:
kejahatan terjadi krn orang baik berdiam diri. Masa orang nodong di bis yg laen pura-pura gak tau...