Wednesday, January 4, 2012

ISI = PANJANG X LEBAR X TINGGI


Sangihe, Tahuna. 01 Januari 2012

(ih judul apaan sich tuh...)

Gue ngga tau berapa umur anda waktu mbaca tulisan ini.  Tapi pernah ngga anda tanya ke diri sendiri, untuk apa anda hidup…?  Hehe,..udah bosen ya sama pertanyaan norak begini.  Ato anda termasuk orang yang kesel sama hal-hal teoritis and berbau sentimental…yach,..what ever-lah.  Tapi coba dech anda jawab pertanyaan tersebut.

Gue yakin kalo pertanyaan tersebut disodorin ke pembunuh berantai asal Amerika Serikat (sayangnya gue lupa namanya…) yang udah membantai 37 nyawa anak-anak, dan menanamnya di kolong rumahnya, dia ngga bakal menulis untuk jadi pembunuh sadis.  Kenapa gue yakin..?  Ya, karena gue percaya kalo di lubuk hati yang paling dalam dan paling suci tiap insan, slalu ada hal-hal mulia yang ingin dilakukannya.

Gue yakin kalo Sang Pencipta Yang Maha Suci dan Agung, gak bakalan menciptakan manusia berhati jahat.  Gue yakin kalo semua ciptaanNya pasti sempurna. Karena Dia sendiri sempurna.

Kalo faktanya ada manusia sekejam Jenghiz Khan, Hitler, ato Pol Pot yang semuanya udah membinasakan sekitar 50 juta jiwa, bukan berarti mereka disetting jadi pembunuh sejak lahir, melainkan karena rangkaian panjang hidupnya yang membuat mereka berespons salah.

Coba dech pelihara Srigala ato Harimau sejak bayi. Berikan makan dan kasih sayang dengan baik.  Bukan tidak mungkin Harimau dan Srigala tersebut menjadi lebih lembut ketimbang Merpati.  Tapi coba rubah perlakuan anda.  Kasih makan asal aja, trus gebukin tiap hari.  Hehehe,…jangan-jangan anda di bikin ‘steak manusia’

‘Tiap mahluk berespons atas apa yang diterimanya’…….Begitu menurut penelitian para ahli.
Tapi Yang Maha Suci Tuhan memberikan kehendak bebas kepada tiap insan untuk memilih ‘respons’ atas segala hal yang di terimanya.

Trus, apa kaitannya dengan pertanyaan ‘Untuk apa kita Hidup…?’  Ok,sederhanya gini, entah kita sadarin ato ngga, tindakan yang kita jalanin dalam hidup keseharian kita, akan menunjukan respon apa yang sebenarnya udah kita pilih.  Apakah kita berespons sebagai orang yang  “Semuanya harus demi gue” ato “Hidup gue juga harus memperhatikan hidup orang lain”

Ok, gue ngga terlalu tertarik membahas yang “Semuanya harus demi gue”….Kenapa..? Silahkan  renungkan sendiri deh.

Idealnya, kita emang harus hidup bukan untuk diri kita sendiri, tapi juga untuk orang lain.  Karena kita emang gak mungkin hidup tanpa orang lain koq.  Lah wong Tuhan aja menciptakan Hawa supaya Adam gak sendirian.  Nah, karena ketidakmampuan kita hidup sendiri itulah membuat kita juga dibutuhkan orang lain. 

Siapa sich orang lain itu..? Orang Africa..? Mexico..? Ato Suku Dani di pedalaman Papua..? Bisa ya, bisa tidak.  Karena orang lain itu bisa aja anak-anak kita, suami/istri, orang tua, kakak/adik, sepupu, ato tetangga-tetangga terdekat kita.  Orang-orang yang cuma sejauh jangkauan tangan kita.

Jujur, gue sering terharu plus iri sama perjuangan seseorang ato sekelompok orang yang penuh dedikasi dan pengorbanan tanpa pamrih menolong kaum lemah yang butuh pendidikan, pengobatan, ato peningkatan taraf hidup.

Tapi di tengah keterbatasan gue, akhirnya gue harus ‘berdamai’ dengan diri gue sendiri, hingga gue mendapati sebuah ‘aha’…sebuah pemikiran dari sebait kata-katanya Kahlil Gibran:

“Kalau anda gak bisa jadi jalan besar, jadilah jalan setapak yang mengantar orang ke mata air”

Kita ngga harus jadi kayaq Warren Buffet yang menghibahkan puluhan Milyard kekayaannya untuk yayasan social yang menolong orang-orang kurang mampu, ato para pejuang kemanusiaan yang begitu menginspirasi kehidupan.  Karena buat gue, dengan tidak merampas hak-hak orang miskin dan anak Yatim Piatu juga sudah merupakan sebuah tindakan yang berarti untuk hidup orang lain.

Putri bungsu gue yang baru 4 taon, Berlian, seringkali ndesak mamanya untuk mbeli apa aja, entah daun singkong, ubi, pisang goreng, dll, yang di jual anak-anak kurang mampu yang lewat depan rumah.  Bukan lantaran dia tertarik sama dagangannya (emangnya tau apa dia soal daun singkong...), tapi perasaan ibanya pada si-penjual.  Karena cuma kata ‘kasihan’ yang keluar dari bibir mungilnya yang cerewet waktu ndesak mamanya.  

Walau kadang uang di rumah udah pas-pasan, tapi gue ama istri gak mau ngecewain si-bungsu.  Kita gak mau memadamkan benih-benih keperdulian yang bersemi di hatinya.  Sebaliknya, kami berharap dan terus memupuk benih tersebut agar berbuah bagi kehidupan orang banyak kelak.

Akhirnya, taon 2012 udah kita jalanin. Dan ini tulisan gue yang pertama tahun ini.  Gue yakin isu sentral masih tentang (dan selalu) kehidupan manusia dan masa depannya.  Loh,…kan akhir dari semua isyu di bumi adalah tentang kehidupan manusia.  Emang pemanasan global masih ada artinya kalo semua manusia udah gak ada lagi…? Apa pentingnya topik Keruntuhan Ekonomi Eropa kalo bumi tinggal berisi kutu, kelelawar ato kecoa ngesot..?

Nah, berarti kita gak akan lari jauh dari persoalan “Kita Hidup Untuk Orang Lain Juga”

Di bagian terakhir sekali, gue inget sama rumus Matematika untuk mencari Isi Persegi Panjang:  Panjang x Lebar x Tinggi

Mungkin sinkron juga ya sama kehidupan.  Bahwa hidup bukan soal berapa Panjang kita hidup, tapi juga seberapa Dalam (tinggi) dan Lebar kita mengisi kehidupan itu sendiri.

Sinkron juga sama kata-kata ahli kehidupan, yang Beliau sampaikan saat Lokakarya di sebuah bukit:
“Berbahagialah orang yang murah hati….”

Jangan lelah untuk kampanyekan: Hentikan Perang dan kekerasan di Indonesia, hingga ujung bumi

hey,....Happy New Year...May 2012 would be better......

2 comments:

petzo said...

hehehe jd inget , menjelang tahun 2012 temen n sodara pada rame bertanya ke gw soal resolusi/target hidup taon 2012.

gw jawab:
hah , apaan tuh ? gw kagak pernah tuh mikir ke sono

semuanya pd protes . katanya gw kudu musti ada target / resolusi di taon baru .

i said : hey yo! everyday i leave my life to the fullest !

neways , happy new year yo !

Obin said...

hehe...bhs nt fresh juga ye. mirip si Akon.