Monday, October 17, 2011

I Hate Kung Fu Panda Movie


(Sebenarnya ini rahasia pribadi sich.  Tapi ngga apa dech.., belajar mbongkar rahasia sendiri. Daripada mbongkar rahasia orang atau rahasia negara.  Hehehe....)

Ngga tau juga, apakah ini kelemahan atau kegilaan, tapi faktanya gue masih doyan nonton film yang layaknya di konsumsi anak-anak SD.  Finding Nemo, Ice Age, Lion King, Dragon Ball, The Legend of Aang, hingga Kung-Fu Panda.  Hehehe,...jangan diketawain dong (sssttt,...gue juga doyan koq sama yang kategori XX...)

Nah, waktu film Kung-Fu Panda di tayangin, gue cepet-cepet nyari di Youtube.  Dapet. Wuih, emank keren man...!! (Malah jauh lebih keren dari gonjang-ganjing flask disk-nya Nassarudin yang di tangkep di Kolombia)

Trus, apanya yang bikin gue kesel..? Ada dua bagian yang bikin gue sebel sama film Kung-Fu Panda.  Pertama, waktu pemilihan calon Dragon Warrior.  Soalnya di pemikiran awam gue, yang layak jadi Dragon Warrior harusnya si-tiger yang notabene emang jago Kung-Fu. Atau ya setidaknya ke-empat temen lainnya seperti si-ular (viper), Burung (crane),  si-belalang sembah (mantis), ato si-monyet (monkey).  Eh, yang dipilih malah Po, si-panda gendut yang ngga tau apa-apa, doyan makan and slow.

Kedua, waktu penyerahan ‘Wasiat sakti’ yang bernilai sakral, yang cuma bisa dimiliki sang Dragon Warrior.  Udah ritualnya begitu rumit banget, eh ngga ada isinya, alias kosong melompong. Cuma bayangan sang Dragon Warrior, alias Po, si-panda gendut yang doyan makan yang terpantul dari wasiat sakti, karena terbuat dari bahan metalik yang mirip cermin. 

Pesan yang ingin disampaikan kedua hal menyebalkan tadi kurang lebih begini:

Pertama, di dunia kita yang makin lama makin modern ini, kita dipacu untuk selalu jadi yang TER. Terhebat, terkaya, tersukses, terpintar, tergaul, terkaya, tercantik, terfashionable.  Bisa dibilang ngga ada lagi ruang untuk kaum yang dikategorikan ‘looser’.  Orang-orang kucel yang tampak oon, yang melakukan hal-hal kecil ‘ngga penting’. Ngga top. Pokoknya yang gitu-gitu aja. “Kaum marginal” istilah populernya.

Ironisnya, dalam keletihan dan kepenatan akibat tuntutan gaya hidup ‘yang terkuat yang bertahan’  justru membuat banyak orang memilih kesederhanaan dan keterasingan sebagai tempat mendarat paling empuk untuk kembali meraih hakikat kebebasan yang sebenarnya.

Sebenarnya, salah satu pakar etika moral juga pernah menyinggung fenomena tersebut lewat pernyataanNya: Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat

Kedua, kita kerap terhipnotis oleh berjuta cara jitu yang ditawarkan untuk menggapai tangga tertinggi kesuksesan hidup.  Baca ribuan buku, menghadiri puluhan seminar, dan entah apa lagi. Ngga,..ngga ada yang salah dengan semua ilmu yang ditawarkan para mentor sukses. Karena untuk meraih yang terbaik, kita harus belajar dari yang terbaik.  Tapi kunci sukses dari semuanya justru sama dengan yang dialami Po, si-panda gendut yang melihat bayangannya sendiri pada kitab sakti yang begitu di dambakan para jagoan kung-fu.

Ya, kita semua. Anda dan saya, adalah anugrah paling unik yang pernah dicipatkan Sang Khalik.

Sama dengan apa yang diucapkan si-bebek, ayah angkat Po: “Resep rahasia itu tidak ada”

Kung-Fu Panda,.......i hate it....(mmhhh,...but i love it)

MARI KITA SUARAKAN: HENTIKAN KEKERASAN DAN PERANG DI SELURUH TANAH INDONESIA, HINGGA KE  UJUNG BUMI