Wednesday, September 14, 2011

SHOW ME THE WAY


(sebuah perenungan pendek tentang hidup)

Salah satu hal yang ditakuti para pendaki gunung adalah hilang jalan, atau kehilangan arah.  Entah saat perjalanan menuju puncak, atau kembali pulang.  Memang, salah satu penyebab hilang jalan adalah kurangnya informasi tentang medan yg hendak di jelajahi.  Tapi oke-lah, bukan itu intinya, melainkan sikap kita saat berada pada kondisi ‘kehilangan arah’ tersebut.

Buat saya, perjalanan kehidupan tak ubahnya petualangan mendaki gunung.  Ada saatnya mendaki, ada juga menurun, atau berputar.  Termasuk kehilangan arah.  Lalu apa yang akan kita lakukan pada kondisi hilang arah? Maaf, dalam konteks kehidupan,  saya merasa belum layak untuk memberikan tips, atau tutorial sukses pemecahannya.  Tapi sebagai eks pendaki gunung, mungkin saya boleh sedikit berbagi. 

Begini,...


Jangan panik.  Ini kondisi mental yang sangat penting untuk dipertaruhkan ketika kita kehilangan arah. Karena dalam kondisi panik, otak kita cenderung beku, dan sulit berpikir.  Banyak pendaki yang tidak bisa kembali, atau hilang saat melakukan pendakian dikarenakan kepanikan.  Takut kegelapan, lapar, dsb.


Ambil waktu sejenak untuk berdiam diri.  Ada kaitannya dengan bagian sebelumnya, hal ini sangat penting untuk melakukan tindakan selanjutnya.  Ada baiknya, ketika melakukan aktivitas  ini, kita juga berdoa pada Yang Kuasa.  Yah, emang sich, Dia Yang di Sana ngga akan dengan serta merta mendiktekan jalan yang akan kita lewati, atau dengan tiba-tiba pohon-pohon rubuh guna memberi tanda seperti pramuka.  Tapi dengan Doa, kita mendapatkan ketenangan,  hikmat untuk berpikir, dan kekuatan ekstra untuk melanjutkan perjalanan.


Tetap bergerak/berjalan.  Sederhana sebenarnya (udah sering gue praktekin loh waktu mendaki...).  Kalo cuma berdiam diri terus, tanpa melangkah,  biasanya malah sering di jangkiti penyakit  saling tuding dan  mencari biang keladi penyebab kebuntuan, yang justru bikin kita tambah tertekan.  Toh jalan keluar ngga akan muncul tiba-tiba.  Beda halnya kalau tetap bergerak dan berjalan,  peluang untuk menemukan jalan keluar akan lebih besar.  Krn saat berjalan, otak juga berpikir.  Mengingat & melihat.  Faktanya, pada tiap langkah kaki yang diayun, disitu juga ada harapan. “Mudah-mudahan 200 meter lagi...”  

Menghemat tenaga/energi.  Banyak pendaki yang karena panik, pikiran buntu, justru menghambur-hamburkan tenaga percuma.  Padahal, kita ngga tahu berapa lama waktu yang bakalan kita tempuh.  Dengan membuang tenaga percuma,  kita justru lebih patah semangat  ketika lagi-lagi menemukan jalan buntu, dan fisik udah sangat letih. 






Cuma begitu.  Kira-kira relevan ngga kalo disinkronkan dengan kehidupan nyata...?