Friday, September 2, 2011

ME AND FRIENDS


Tanggal 01 September 2011 gue jalan-jalan ke Manado sama istri and kids.  Kita misah. Gue liat-liat buku dulu di Gramedia, mereka ke Timezone-nya hypermart.

Dari Gramedia gue nyusul ke Hypermart. Oh my God, gue bener-bener kaya rusa masuk kampung.  Takjub gue sama pusat perbelanjaan dan pusat-pusat lainnya tsb.  Suer, itu pertama kalinya gue nginjek hypermart yg mungkin udah sekitar 5 taonan di bangun di kawasan Manado Town square.

Gue kebingungan nyari yang namanya timezone.

Sambil nunggu istri memandu pake HP,  gue ngeliat begitu banyak manusia menjejalin tempat tersebut.

Tiba-tiba sel-sel neuron di kepala gue terlintas ide untuk nulis soal ini.

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

Pastinya ngga ke itung tulisan tentang pertemanan.  Dengan perspective dan gaya nulis yang juga beda.

Ada yang mendeskripsikan teman seperti kepompong, sangat berharga, dsb.

Gue sepakat dengan semua pendeskripsian tersebut.

Teman emang kadang lebih baik dari saudara.


Teman juga sering  bagaikan spons empuk tempat mendaratkan kepenatan, beban, atau hati yang lagi bad mood



Ngga jarang juga sich Teman  jadi penghianat, dan  berpotensi jadi musuh.

What ever, idealnya,  dalam pertemanan kita terbebas dari segala macam perbedaan.  Entah suku, Agama, warna kulit, golongan, kepangkatan, atau strata ekonomi.  

Gue punya temen tukang ojek, sopir taksi, CS, Direktur, Doktor, Kadis, Ustad, pendeta, Pengusaha, pedagang kaki lima, hingga konglomerat.  Semuanya manusia. Hehehehe,.......

Gue tau temen-temen gue.  Gue respek sama mereka.  Tapi gue ngga bisa memenuhi semua harapan temen gue, dan  ngikutin semua keinginan mereka.

Gue punya harapan-harapan yang indah dalam berteman.  Tapi justru disinilah pertempuran batin gue. Pertempuran antara harapan dan ketidakmampuan.

Gue sering  gagal jadi seperti Cameron Poe di film Con Air, yg rela mengorbankan nyawanya untuk temennya.

Gue cuma bisa trenyuh karena selalu gagal jadi kayaq para satria temen-temen Arthur di film King Arthur

Gue juga cuma bisa senyum kecut karena ngga bisa jadi kayaq Harry Stampler, pempinan sekaligus teman bagi  orang-orang  yang  respek padanya, di  film Armagedon.

Sambil merenung,  gue mendapati kenyataan kalo ternyata gue lebih sering  gagal jadi temen yang baik.  Ketika gue berusaha menutupi  ‘kelemahan’ di satu sisi, ironsnya gue justru menemukan ‘kelemahan’ di sisi lainnya.  Begitu terus, sampe gue merasa letih sendiri guna mencapai kualitas ideal seorang teman.  Hingga akhirnya gue harus ‘pasrah’.  Gue harus bisa berdamai sama diri gue sendiri, dan menampilkan gue yang apa adanya, sambil memohon belas kasihan semua temen gue, untuk menerima dengan ikhlas,  seorang Robin Ticoalu.

Gue  yang terkadang begitu elegan mengakui kesalahan di satu kesempatan, sekaligus berdalih di kesempatan yang lain.

Gue  yang terkadang begitu antusias membangun sebuah ide, namun dengan serta merta memendamnya tanpa bekas

Gue  yang terkadang doyan ngumpul bareng, tapi dengan serta merta berubah males ketemuan dengan siapapun



Gue  yang terkadang antusias koment di FB, namun lebih sering ngilang kayaq invisible man

Gue  yang terkadang lucu, menggemaskan dan ngangenin (kayaq boneka Tedy Bear...hehehe...ada yg ngomong loh...), namun bisa berubah nyebelin kayaq panu

Gue  yang terkadang begitu lunak terhadap satu hal, namun berubah kukuh tanpa pandang bulu

Gue  yang terkadang begitu antusias mengirimkan ratusan sms, namun dengan serta merta mematikan HP berhari-hari hingga susah banget di hubungi.


Gue  yang terkadang begitu idealis, namun dengan serta merta berubah oportunis

Gue yang sering ngga PD (walaupun agak ganteng and ngga terlalu bego....hehehe..)

Gue  yang lebih sering pelit ketimbang dermawan (kata salah satu anak buah gue yang ngomong dibelakang ‘punggung’ gue)

Gue yang sering memotivasi orang, justru sering gagal memotivasi diri sendiri untuk jadi lebih baik



Btw,  di antara plus minusnya gue,  gue yakini beberapa hal:

Gue ngga bakalan bisa nyenengin semua orang, termasuk temen-temen gue

Gue ngga pernah berusaha dengan kesadaran bikin siapapun celaka ato menderita

Gue ngga pernah membenci siapapun, apalagi mahluk-mahluk yang gue sebut temen



Gue ngga berusaha ‘memanfaatkan’ pertemanan untuk kepentingan pribadi gue.


Eh,....tunggu....tunggu......hehehe.....gue bukan lagi curhat loh....

“Mengenali kapasitas diri itu penting”  tulis sebuah buku yang pernah gue baca

Mungkin kalimat itu yang gue pilih untuk mengutarakan ‘who am i’, ketimbang curhat 



Ngga seorangpun yang kenal diri gue sepenuhnya, kecuali Tuhan dan diri gue sendiri.

At last,....apapun yang udah gue tulis, yang pasti gue happy and proud punya all of you as my friend.  Kiranya Yang Maha Kuasa Tuhan selalu menjaga dan mencurahkan berkat-berkatNya buat kalian semua.  Teman-teman gue.




Mari kita serukan: Stop kekerasan dan Perang di Seluruh Tanah Indonesia,..hingga ke ujung bumi.