Monday, July 18, 2011

MEMAKAI KEYAKINAN SENDIRI


Dalam perenungan, saya kerap berpikir bahwa saya bukan pribadi yang punya semangat juang dan keinginan kuat untuk meraih apa yang saya impikan.  Saya ngga doyan ngotot-ngotot amat untuk meraih sesuatu.  Kerap memendam ‘banyak harapan dan impian’ tanpa batasan waktu.  Dan pada titik tertentu, sering merasa ada yang salah dengan diri saya.

Anehnya,  dilain kesempatan  saya senang membaca buku-buku tentang semangat juang orang-orang sukses, mengikuti banyak seminar para motivator ulung, serta nonton film-film yang inspiratif.  Saya juga bergaul dengan beberapa sosok sukses yang perfectsionis.  Toh belum dapat ‘mengubah’ perspective saya dalam meraih impian dan harapan-harapan saya.

Konyolnya, saya kerap mencari pembenaran yang dapat mendukung perspective saya.  Menuding ini dan itu sebagai biang keladi, serta berbagai dalih.  Hingga akhirnya saya meyakini satu hal, yang terinspirasi dari CEO Jawa Post yang kini menjabat Dirut PLN, Bpk Dahlan Iskan.   

Dalam cerita bersambungnya tentang proses ‘Ganti Hati’ yang di muat di salah satu harian terbesar daerah, beliau menyatakan bahwa hidupnya diposisikan  bagai aliran air yang semakin hari-semakin deras alirannya. 

Saya ingin menjalani kehidupan dengan apa yang saya yakini. Tanpa harus meminjam keyakinan orang lain.  Dengan begitu, saya tidak harus ‘merasa kurang bahagia’  karena penilaian orang lain tentang saya.  Dan mungkin,….itu sebabnya saya tidak terusik rasa cemburu oleh capaian kesuksesan siapapun, atau diganggu oleh apa yang disebut sebagai ‘persaingan’

Cukupkanlah dirimu, dengan semua yang ada padamu.” Adalah short massage yang saya yakini.
(itu juga salah satu alasan saya ngga perlu istri lebih. 1 cukup koq…….wkwkwkwkw…)

Kami pernah tinggal di suatu tempat yang sebagian besar masyarakatnya memutuskan mengambil jatah beras bagi kaum miskin (raskin).  Tak perduli miskin asli, atau miskin ‘jadi-jadian’.  Beberapa kali  ketua RT (Rukun Tetangga), yang kebetulan teman baik kami menawarkan beras extra murah tersebut.  Dengan halus kami selalu menolak.  Bukan tak butuh beras.  Melainkan Karena keyakinan, bahwa kami bukanlah warga miskin.  Namun kami tak mengemukan alasan ini padanya.  Ngga tega menyinggung perasaan orang yang telah menawarkan hal yang baik (menurut keyakinannya).

Di kesempatan berbeda, kami diperhadapkan pada suatu kondisi dilematis. Istri harus menjalani operasi cesar persalinan anak ke-2 yang biayanya lumayan. Sedangkan kondisi keuangan saat itu agak timpang. Seorang yang baik hati memberi jalan mudah pada kami: “Meminta keterangan kelurahan sebagai warga miskin”

Dengan demikian bisa dibebaskan/diringankan dari biaya persalinan.  Dengan keyakinan, dan alasan agar tidak menyinggung orang yang menawarkan kebaikan, kami menolak tawaran tersebut.  Kami-pun mencari pinjaman.

Kami juga pernah diajarkan dan ditawarkan untuk ‘mencuri listrik’

“Di jamin ngga ketauan.  Banyak koq rumah gedongan yang melakukan.”  Ujar rekan saya beberapa tahun lalu (saat pengawasan PLN belum seketat sekarang)

Saya juga menolak.  Semata karena keyakinan. Ngga perduli apa keyakinan orang lain. Walau  jauh lebih kaya, atau lebih pintar dari saya.

Tapi ngomong soal keyakinan, saya tahu persis, bahwa sebuah keyakinan tak boleh, dan tak bisa dipaksakan,  tapi  harus lahir dan tumbuh atas keinginan pribadi.  Dengan keyakinan yang kita anut, kitapun tidak bisa merendahkan, atau melecehkan keyakinan yang lain.  Karena ngomong soal keyakinan, bukan ngomong soal benar atau salah.  Itu persoalan yang lain.  Karena keyakinan adalah persoalan psikologis. Bukan masalah logis.

Kalau saya meyakini bahwa Isa Al Masih, atau Yesus Kristus telah lahir, lalu mati dan bangkit dari kematian, hingga naik ke Sorga, itu kan keyakinan saya.  Orang lain mau meyakini atau tidak, itu bukan urusan saya.  Dan saya juga ngga perlu risau, kesal, atau marah kalau ada yang bilang bahwa keyakinan saya salah.  Hehehe….kan kalau dianggap gila, toh yang gila saya. 

Beberapa tahun yang lalu, 2 rekan saya adu argumentasi soal persembahan di Gereja yang berasal dari hasil korupsi.  Teman yang satu, sebut saja A, bilang kalau Gereja harus menolak persembahan tersebut.  Teman yang B menyatakan Gereja  sah-sah saja menerimanya.  Wah, lumayan lama mereka beargumen.
Ketika saya mendekat, rekan A menanyakan pandangan saya.  Tanpa banyak argument saya bilang kalau saya tidak mengharamkan persembahan tersebut.  Karena keyakinan saya, Gereja bukanlah organisasi penghakiman.  Lagian, yang melanggar hukum adalah perbuatan mendapatkan uang tersebut. Bukan uangnya yang di haramkan.  Perbuatan si-penyumbang adalah urusan penegak hukum.

Mungkin kasusnya hampir mirip dengan ‘istilah kejam’ yang di materaikan pada anak yang lahir di luar status pernikahan: ‘anak haram’ ……astagfirullah….koq tega-teganya nyebut si-anak sebagai mahluk haram sich.  Emanknya si-anak salah apa..? Emanknya dia minta dilahirkan..? kan yang melanggar etika kemasyarakatan adalah ‘perbuatanya’ bukan hasil dari perbuatan tersebut.  Malah, itu juga cuma karena ‘kelamaan nyabutnya’…..hahahaha…..(sensor ahh,..) 



Beda sama kesalahan ngitung beban waktu mau bikin bangunan 15 tingkat.  Karena kesalahan hitung bisa berakibat fatal pada dampaknya.

Akhirnya, pakailah keyakinan anda sendiri.  Ariflah menerima resiko dari keyakinan tersebut. Waktu akan membawa kita pada sebuah pencerahan. Persoalan keyakinan itu berubah atau tidak, keyakinan untuk itu harus berasal dari diri kita sendiri. Jangan pernah meminjam keyakinan orang lain.