Wednesday, April 13, 2011

ONCE UPON A TIME IN CHANGI

Pict by. Rajiv Arora

Bagi perokok , pembatasan wilayah merupakan hal yang menyiksa. Kondisi seperti itulah yang saya alami kala pertama menginjakan kaki di Negara cantik bernama Singapore. Selain rongga mulut terasa asam, situasi bandaranya berhasil menelanjangi sifat kampungan saya.  Terbengong-bengong bagai  ‘rusa masuk kampung’

Untungnya rasa itu tidak berlangsung lama. Rasa asam di rongga mulut yang hampir 4 jam tak tersentuh asap rokok, segera terobati saat mata saya mendapati tulisan ‘smoking area’. Dalam hitungan detik, sirna semua kekacauan di kepala ini, bersamaan dengan keluarnya asap putih nan lembut beraroma tembakau dari mulut dan barisan gigi yang mulai ompong.

Di ruang kaca 3 x 3 meter ber-AC  , hampir 10 pria dan wanita beragam style dan kebangsaan. Ada India ganteng yang sibuk dengan Laptop-nya di dekat tiang marmer, bule gendut yang tatapan nanarnya melekat di paha mulus wanita China mirip Gong Li (hehehe, …sumpah,…dia emank mulus banget), serta beberapa pria Asia parlente berdasi.

Pintu auto terbuka saat saya sedang bermain dengan pikiran saya. Wanita yang sangat cantik masuk, berdiri sekitar 2 meter di depan saya, bersandar di beton. Rambutnya berombak dan sedikit kemerahan, menutupi bahu dan sebagian punggungnya. Semi jas hitam dipadu kemeja putih berenda di bagian dalam, serta rok satin hitam sebatas lutut, makin menambah aura kecantikannya.

Dengan acuh ia mengeluarkan sebungkus rokok putih dari tas kulit Versace. Tak perduli beberapa pasang mata  pria (termasuk saya) yang terpesona padanya.  Bahkan si-India ganteng yang telah meng-off-kan Laptop-nya , kembali menyulut sebatang. Mmhh, alas an.

Entah berapa kali saya meliriknya. Wajahnya mungil, putih dan licin laksana pualam. Matanya jernih, dan sedikit sipit. Bibirnya kecil, lembut dan padat. Taksiran saya, umurnya antara 27 hingga 30 tahun.

Naluri purba dalam diri laki-laki saya menyeruak. Getaran halus yang telah begitu lama terpendam, kembali berdetak.

'Apa salahnya mengasah kemampuan memikat wanita.'  Kakipun melangkah mendekat

Untuk sesaat, langkah saya terhenti. Teringat julukan yang disematkan putri tertua saya. “Raksasa ompong”. Tua, gendut dan ompong. Rasa percaya diri yang sempat mekar, kembali redup kala tersadar akan realita bahwa tak ada lagi daya tarik fisik yang bisa saya andalkan. Tak ada senyum memikat, lengan berotot, apalagi perut sixpack.

Magnet kecantikannya meluluh lantakan logika waras saya.

lihat mata dan gerakan tangannya. Kalau ia menatapmu lebih dari tiga detik, lalu menyibakan rambutnya secara perlahan, itu sebuah pertanda.” Terngiang celoteh salah satu rekan saya yang sangat piawai dalam urusan wanita.

Rasa PD saya kembali merekah. Si-cantik tampak menyampaikan signal seperti yang diutarakan rekan saya. Dan saya-pun memutuskan untuk memberinya tanda dengan mata, untuk menyuruhnya keluar dari smoking area. Kutunggu hingga ia kembali menoleh.

Ahhh, ia menoleh sambil mengibaskan rambutnya. Dengan kedipan mata, kuminta ia keluar. Mulanya saya kira salah sangka saat melihatnya melangkah ke luar, berhenti  sesaat, dan menoleh ke arah saya.

“Yes..!” saya langsung mengikutinya keluar.   

I have a big problem.” Kalimat pertama yang meluncur dari bibir mungilnya, tanpa berusaha menjelaskan. Tubuh anggunnya melintasi beberapa vas bunga keramik beralaskan permadani cantik asli Persia. Duduk di ujung spring bed, dan melepaskan sepatunya dengan acuh. Membiarkan aku menikmati keindahan tungkainya, hingga ke pangkal yang mempertotonkan lingerie coklat-nya.

Malam semakin larut. Sepiring hamburger habis kami sikat. Sesuatu yang duga memang terjadi. Ia mengajak saya menginap di hotelnya. Menghabiskan sisa waktu untuk penerbangan selanjutnya.

Di sudut Changi Airport, saya-pun lupa senyum manis istri.  Bahkan saya lupa kalau 4 jam selanjutnya saya harus terbang kembali ke Manado. Tapi saya tak pernah lupa kala terbaring lunglai di spring bed berselimut tebal, di samping tubuh mulus nan harum.

                                           0000000


Manado, 2 minggu kemudian

“Ih cantik sekali bintang pornonya.” Seru istri saya dari ruang nonton keluarga. Penasaran, saya pura-pura bergegas ke toilet yang melewati ruang nonton.

“Oh My god.” Wanita cantik sang bintang porno Jepang itu bernama Maria Ozawa. Wanita yang sama, yang telah ‘having fun’ dengan saya di balik kehangatan selimut kamar hotel di Singapura.

Saya-pun kencing sambil menyenandungkan lagunya Ada Band…..

Mungkin,..ku tak akan bisa,…jadikan dirimu, kekasih yang seutuhnya mencinta
Namun, kurelakan diri, jika hanya setengah hati….kau sejukan jiwa ini..

Pikiran saya kembali melayang ke suatu tempat yang namanya ‘Smoking Area” 


MARI KITA SUARAKAN:  "TOLAK PERANG DAN KEKERASAN DI SELURUH DUNIA...!!!"