Sunday, April 3, 2011

MANUSIA BUKAN BUKU KALEEE….

Karena keabisan rokok, tapi kantuk  belum juga ngajak tidur ( jam menunjukan pukul 02.15 Wita),  saya memaksa ke warung yang jaraknya sekitar 3 km dari rumah. Hampir bersamaan dengan tibanya saya di warung yang di jaga wanita 30-an, datang 5 pria muda berpenampilan agak slebor, dengan napas beraroma ‘cap tikus’ (minuman keras khas Sulut)

Dengan perimeter mata, saya mengamati gerak-gerik mereka. Kejantanan (hehehe,…ayam kale..) saya merasakan aroma masalah. Tiba-tiba salah satu pemuda bercelana pendek, yang sebagian kaki kirinya dipenuhi tatto, berjalan perlahan dengan sedikit terhuyung ke belakang saya.

Naluri sebagai mantan ‘anak jalanan’ (jangan salah persepsi dulu,..maksudnya anak yang doyan munggutin sampah di jalanan) menyiratkan kalau pada saat itu akan terjadi hal-hal yang kurang mengenakan. Tiba-tiba betis kaki kiri saya terasa seperti di tendang pelan. Saya memutar tubuh perlahan, menarik mundur kaki kanan, bersiap mengirmkan tendangan ala Bruce Lee.  Kedua tangan tetap saya biarkan bebas (sebenarnya saya ragu bisa mengatasi mereka semua)

 Saya terkejut.  Pemuda telah terkapar di tanah yang sedikit becek. Rupanya ia terpeleset dan jatuh. “Aduh,…maaf om,..maaf,..ngga sengaja” pemuda itu bangun dengan susah payah, dan berusaha membersihkan celana panjang saya yang sedikit kotor.

“Ngana kwa,.so kancang. Emplas babadiang jo,.mo kasana kamari. Maaf neh om.” (kamu sih, udah mabuk berat, bukannya diem aja, malah ke sana ke mari. Maaf ya om) Rekannya yang bertubuh lebih gempal, dengan anting di kening dan telinganya menundukan kepala.

“Nda apa.” Saya tersenyum. Badai berubah jadi angin sepoi-sepoi.   Beberapa langkah dari warung, saya sempat mendengar suara pria yang bertampang paling ‘seram’..”Ngana ini, orang tua tudia.” (kamu sih, orang tua tuh..!)

Hahaha….saya ‘diuntungkan’ karena dipandang sebagai orang tua. Mereka ngga tega nggaggu ‘kakek-kakek’. Takut kualat.

Di perjalanan ke rumah, saya sempat sedih.  Sudah setua itukah saya di mata mereka? Hahaha,….bukan itu persoalannya.  Tapi penilaian miring saya. Juga penilaian lurus mereka.

Kejadian yang sama juga pernah saya alami beberapa tahun lalu, ketika hendak menemui seorang pengusaha yang bergerak di bidang penangkapan ikan. Nama besarnya sebagai pemilik beberapa kapal sering saya dengar, tapi belum sekalipun melihatnya.

Ketika sampai di rumahnya, saya melihat pria paro baya menyirami rumput, dengan celana pendek, dan kaos oblong yang beberapa bagiannya robek.  Mungkin karyawannya. Pikir saya. Bukan main terkejutnya ketika tahu bahwa laki-laki berpenampilam  pembantu (sory,..) itulah sosok yang saya cari. Huuh,..lagi-lagi dikecoh oleh penampilan.

Saya yang menganggap telah maju dalam pemikiran, masih rentan masuk perangkap pada penilaian berdasarkan kemasan. Tampilan luar seseorang. Ironis memang. Tapi begitulah faktanya. Saya toh cuma manusia penuh kelemahan (hahaha,…bahasa dalih lagi)

Kabar baiknya, saya tidak sendirian di dunia abu-abu ini, yang kerap menilai orang lain dari penampilan luar. Kalo orang kaya yang terhormat plus berpendidikan pasti fashionable, dandy, necis dan kinclong. Sebaliknya dengan pecundang dan sampah.

Kenyataan itu pula yang menuntut para salesman, sallesgirl dan staff marketing senantiasa menjaga penampilan dan kebersihan. Harus menarik secara fisik, demi menarik buyer. Karena penampilan adalah gerbang pertama memasuki produk jualannya.

Hal yang sama dipraktekan juga pada kemasan sebuah produk. Ngga penting isinya enak, berfaedah bagi kesehatan atau tidak, yang penting tumbuhkan image positif  dulu lewat kemasan semanarik mungkin. Dan 40% keberhasilan sudah di depan mata.

Bahkan, salah satu ilmu penting dalam marketing adalah kreatifitas merancang kemasan. Jika sebuah produk kurang laku di pasaran, tarik dulu. Lalu ubah kemasannya seapik mungkin, dan lempar lagi ke pasaran. Maka penjualan meningkat hingga 100%.

Sama sekali ngga ada yang salah dengan semua ilmu tentang daya magic pengemas tersebut. Toh ilmunya justru ‘diperoleh’ dari kita yang memang lemah soal indra pengelihatan.

Pria pendiam, necis, berkacamata minus, bermobil keren, cenderung lebih bernilai jual tinggi di mata para wanita, dibanding yang kucel, cerewet, suka ngomong asal, dan naek kendaraan umum. Bukan saya meremehkan kredibilitas wanita loh. Tapi emang kaum wanita sendiri koq yang membahasakan lewat bahasa tubuhnya. Dan itu juga ngga salah.

Ironisnya, fakta inilah yang justru sering dimanfaatkan para penipu dan penjahat. Soalnya sulit untuk melaksanakan aksi kejahatan, kalau dari penampilan aja, si-calon korban sudah mengendus keberadaanya, lalu semerta-merta memasang jarak. Waspada. Siap dengan senjata kejut listrik 500 volt.

Temen saya, laki-laki yang performancenya cenderung biasa, selalu sukses mengantar wanita ke pelukannya, hanya bermodalkan bahasa indah, parfum, penampilan dandy, dan mobil sewaan. Beberapa kali saya melihat sendiri aksinya. Hanya se-simple itu. Karena dia paham bagaimana ‘memanfaatkan’ mata rabun korban-korbannya. Ssssttt…jangan bilang ke teman saya kalo kisahnya saya jadikan contoh.

Kan ada kalimat yang bilang: ‘Jangan menilai buku dari sampulnya’ (mungkin dari harganya ya….). tepat sekali. Walau faktanya manusia bukanlah buku, tapi entah kenapa ya, manusia bisa aja dianalogikan dengan, atau sebagai apapun.

Kisah saya sih udah basi. Tapi tak lekang dimakan waktu toh? Karena kita, emang senang menilai segala sesuatu lewat kemasannya. Isinya, ngga lagi penting kalo udah terlanjur beli kemasannya.

MARI KITA KAMPANYEKAN UNTUK MENOLAK PERANG DAN KEKERASAN DI MANAPUN
dengan semangat SITOU TUMOU TUMOU TOU ....Manusia Hidup untuk menghidupi manusia lainnya