Tuesday, March 1, 2011

SATRIA BAJA HITAM.....BERUBAH

Pict. Ireland 4517. Setelah berubah dari ulat bulu jelek

Gila! Gue gak nyangka dia bisa sehebat itu. Padahal dulu, dia begonya minta ampun. Pernah dengar kalimat seperti itu? Jangan bohong. Malahan mungkin kita sendiri yang sering mengucapkannya.

Perubahan. Kata sakti yang sering dipakai para motivator untuk membangkitkan dan menghipnotis audience. Dan sering terbukti tokcer.

Pernah nonton film fantasi superhero seperti Superman, Batman, atau spiderman? Itu loh, tokoh supersakti yang sukses melibas kejahatan, setelah yang bersangkutan merubah dirinya dari sosok ‘orang biasa’.  Peter,  wartawan cakep yang sedikit oon, berubah jadi very fantastic dan bombastic waktu menggunakan seragam laba-laba merah. Begitu juga dengan Clark Kent yang kacamatanya auzubilah tebel. Langsung bisa terbang dengan pakaian Superman (walau dengan kancut yang diobral kesana kemari…hehehe..)

Makna apa yang terkandung dari semua kisah fantasi tersebut? Kerinduan pada keamanan dan citra ideal kehidupan yang damai dan tentram, yang terpaksa difantasikan, karena ketidakmampuan merealisasikannya dalam kehidupan nyata. Padahal, kata kunci dari semua harapan tersebut adalah perubahan.

“Rubahlah mindset anda. Keluar dari zone nyaman anda,  jika ingin mencapai kehidupan yang lebih baik.” Merupakan mantra modern yang kerap menggema di atmosfir kehidupan masa kini. Tapi faktanya tidaklah semudah ‘teorinya’

Pendidikan saya Cuma begini. Saya tidak pandai berkata-kata. Saya tidak melek IT, serta seabrek ‘tembok Cina’ kerap membatasi keinginan untuk berubah. Salahkah? Tidak salah mungkin. Karena seperti dikatakan Stephen Covey: Dimana kita duduk, tergantung di mana kita berdiri.

Kita dibesarkan dengan kondisi dan pakem yang seolah disabdakan dari langit, hingga bisa membawa malapetaka jika diubah, atau di langgar. Kalo Stephen Covey bilang, kita tumbuh dan dikondisikan ‘sudah begitu’. Welah dalah, Cuma Gusti Allah yang bisa ngerubah keyakinan yang mengakar urat begitu.
Contoh kasus yang ‘berbau keabadian’ adalah filosofi ‘banyak anak banyak rejeki’ ; ‘biar kalah nasi yang penting jangan kalah aksi’ (kalo ini slogan gendengnya orang Minahasa)      

Biarpun makan aja udah ngga tau bagaimana caranya, tapi ngga juga mau berenti beranak. Mungkin di benaknya, nanti anak ke sekian baru rejekinya datang.  Ato, ….siapa tau salah satu anaknya ada yang jadi mentri. Hahaha…Itu kan pemikiran yang aneh (kata halus dari gendeng). Mbok ya punya anak tuh liat kondisi. Kalo 2 aja udah mikir jadi pengemis atau pelacur, lah kok malah nambah. Kan kasihan anak-anaknya. Ayam 1 ekor jadi enak kalo dibagi ber-4, jadi harus dibagi 8, karena anaknya 6.

Setelah puluhan tahun menggalakan program KB, emang berapa besar pengaruhnya untuk merubah mindset ‘banyak anak banyak rejeki?’ padahal, kalo aja program KB sukses, kan pembagian kue nasional bisa lebih gede proporsinya.

Setali tiga uang sama sebagian besar orang Minahasa. ‘biar kalah nasi, yang penting jangan kalah aksi’….gengsi adalah segalanya bo! …haloooow.  Ini nih sebenarnya salah satu biang kerok maraknya korupsi. Gimana ngga, lah wong mampunya Cuma beli motor, maksain diri kredit Xenia. Abis itu, disewain jadi taksi gelap.  Biarpun dia sendiri akhirnya jarang naekin tuh mobil, yang penting tetangga dan teman-teman tahu kalo dia punya mobil keren. Trus, foto-foto disetir mobil buat masukin di Facebook. "Supaya ngga dianggap enteng orang" Paling itu bahasa yang keluar dari bibirnya yang bau ikan asin.

Bukan sirik, ato nyinyir sama orang. Tapi saya pernah liat orang yang performancenya keren.  Turun dari mobil keren. Eh ribut berat sama tukang parkir kurus yang kucel, dan udah kepanasan, cuma lantaran duit 1000 (catat: seribu perak). Oh my god dragon… (artinya astaga naga,..kata temen saya). Apapun alasannya, kan ngga balance ngeributin Rp.1000 yang buat si-tukang parkir adalah seluruh hidupnya, tapi cuma ‘kentut’ mobilnya bagi si-pengemudi sok kaya.

Tapi yah, begitu deh. Masih lebih mudah melakukan revolusi untuk menurunkan pemimpin Negara, kaya di  Mesir & Libya ketimbang merubah mindset atau persepsi yang dibentuk, dan mendarah daging pada diri seseorang. Coba aja suruh orang Palestina untuk menerima Israel dengan ikhlas, lalu melupakan semua cerita masa lalu, untuk menempuh hidup baru. Atau sebaliknya. Orang Israel terhadap Palestina. Karena satu-satunya keyakinan yang mereka tahu adalah: dengan membasmi seluruh orang Palestina dari muka bumi, maka persoalan Bangsa Israel akan selesai. Begitupula sebaliknya.

Intinya, perubahan tidak bisa dipaksakan dari luar. Karena perubahan harus datang dari masing-masing pribadi. Dengan pencerahan dan keikhlasan. Malahan, Tuhan sendiri tampaknya enggan menggunakan kuasaNya untuk ‘memaksa’ perorangan untuk berubah. Dia lebih memilih jalan pertobatan ketimbang paksaan (yang ironisnya, justru sangat digemari manusia)

Btw, kira-kira,…judul sama isinya match ngga ya? Kalo ngga, rubah sendiri deh.

Satria baja hitam. Berubah….