Tuesday, March 15, 2011

IF TOMMOROW NEVER COMES

(I can't writing English well. But from my deep heart, i just can tell: "I sad and concerned with the Tsunami disaster that hit Japan. May the patience to deal it…!")


Beberapa tahun lalu, seorang rekan wanita saya bercerita kalau Ia mencintai seorang pria selama bertahun-tahun.  Sejak SMP. Namun tak pernah berani mengirimkan signal-signal cinta. Apalagi mengutarakannya secara terbuka. Ia senantiasa mencari tahu semua kegiatan laki-laki itu. Bahkan melihatnya dengan tatapan datar kala si-cowok bergonti-ganti pacar.

Karena kasihan, saya kerap memberinya pemikiran untuk melupakan pria itu. Namun tak satupun nasihat saya yang bisa merubah posisi pria itu di hatinya.

“I will stop waiting, if tomorrow never comes. ” Selalu itu kalimat yang diucapkannya. Luar biasa.
Andai saya punya sedikit saja cinta lebih dari seorang teman, saya akan berusaha untuk merebut hati dan perhatiannya dari pria idamannya. Tapi sayangnya tidak. Saya tak mau memaksa cinta tumbuh di hati saya hanya karena rasa iba.

Waktupun berlalu, dan kami terpisah. Komunikasi kami terputus, dan saya tak pernah tahu lagi keadaannya , hingga suatu saat pada salah satu supermarket  di Negara matahari terbit beberapa waktu lalu.

Saat tengah melihat peluang  yang bisa saya eksport dari Indonesia, saya merasa ada seorang wanita menarik yang tak henti memperhatikan saya. Mulanya agak Geer juga sih. Tapi lama kelamaan malah jengah. “Can I help you Lady?” Dengan Bahasa Inggris yang telah saya hafal 5 menit sebelumnya

“From Indonesia? Robin kan?” Cecarnya sebelum saya sempat menjawab.   

Saya menganggukan kepala,  sambil mencoba mengingat wanita manis nan anggun di depan saya.  Tiba-tiba ia meletakan kereta belanjanya, dan langsung memeluk saya. “U.”  Ia menyebut namanya.  Kamipun bercerita panjang lebar.  Ketika saya celingukan ke sana kemari, rekan saya seperti mengerti apa yang saya cari, lalu ia menunjuk sosok pria berkaos garis-garis dengan jeans biru tua yang berdiri membelakangi, tak jauh dari tempat kami. “Sama suami dan anak  .” Ujarnya masih dengan senyuman yang tiba-tiba mengingatkan saya pada istri di Indonesia. 

Saya sangat terkejut saat pria itu membalikan tubuhnya, dan berjalan ke arah kami, diiringi 2 bocah laki-laki berusia 7 dan 10 tahun. Pria yang di sebutnya suami adalah pria idamannya hampir 25 tahun yang lalu. Saya melongo untuk beberapa saat.

Pembicaraan-pun kami lanjutkan di tempat kediaman sementaranya di Jepang (konon merupakan sesuatu yang tidak lazim bagi orang Jepang untuk bertamu ke rumah orang).
“If tomorrow never comes ya Bin.” Ujar rekan saya sambil menggandeng mesra suaminya, sesaat ketika kami keluar dari supermarket, menuju tempat kediamannya.

Setelah hampir 3 jam ngobrol sambil makan siang di rumahnya yang tak jauh dari supermarket di Kagoshima, saya tahu kalau suami rekan saya adalah seorang diplomat. Sedangkan rekan saya adalah exportir produk pertanian ke Jepang.

Sesaat sebelum berpisah, kami bertukar nomor HP dan e-mail. Saya pulang sambil merenungkan arti ‘if tomorrow never comes’ yang rekan saya jadikan sebagai pedoman. Philosofi yang tidak lazim.  

Dari e-mail yg dikirimnya, ia bercerita bagaimana akhirnya ia menikah dengan pria idamannya itu. Menurutnya, dalam sebuah kegiatan reatret yg dilakukan Gerejanya, tanpa diduga, ia bertemu dengan pria idamannya, dan ia punya kesempatan banyak utk dekat dengan pria itu. Dalam moment itu, ia mencurahkan perhatiannya pada si-pria secara alami. Tidak selalu berdekatan, namun tidak terlalu jauh. Ia senantiasa mencurahkan perhatiannya secara tulus. Selesai reatret, frekuensi pertemuan mereka jadi lebih sering, hingga pada sebuah kesempatan, sang pria mengungkapkan cintanya pada si-wanita. Dua tahun berpacaran, akhirnya mereka menikah.

Saat mengingat bagian itu, tanpa saya sadari, mata saya berkaca-kaca. Saya sangat terkesima dengan keteguhan hatinya yang sederhana. Saya mengira, bahwa kisah seperti itu hanya ada di sinetron, atau kisah di novel. Bukan pada kehidupan nyata. Karena berkaca pada kehidupan cinta saya di masa lalu, saya tidak pernah mencintai seorang wanita sedemikian hebatnya, hingga harus berkorban terlalu besar. Karena bagi saya, buat apa menanti seorang wanita sedemikian lamanya tanpa kepastian, kalau saya punya peluang untuk mengutarakan cinta saya pada wanita lain. Toh saya seorang pria. Kalau si-A tidak mau, kan masih ada B, C, D, hingga X.

Namun dari pertemuan dengan rekan lama itu, saya berhasil menarik sebuah pelajaran penting. Pelajaran tentang pedoman ‘If Tommorow Never Comes’ yang dianut rekan saya.

Saya adalah seorang yang peragu, temperamental, kurang punya semangat tempur yang tinggi dalam menjalani kehidupan, penuh dengan kekuatiran, serta mudah menyerah. Saya diajari oleh seorang wanita dari kehidupan masa lalu saya. wanita yang lebih muda dari saya, namun memiliki keyakinan yang kuat.

Pada salah satu  e-mail yang dikirimnya, ia menulis:” Kalau Hari Esok Tak Pernah Ada, buat apa kita berusaha hari ini. Buat apa kita punya harapan? Nyatanya kan kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Dan karena ketidak tahuan itulah kita punya harapan akan sesuatu yang lebih baik. Dengan usaha dan Doa, kita jalani hari demi hari, sambil bermimpi dan berharap, bahwa masih ada hari esok.”

Sambil membayangkan wajah manisnya, saya mengirim e-mail: “Dari dulu kamu ngga pernah tertarik sama saya?”

Balasannya:”Waktu bukan Cuma ngubah kamu jadi gendut, tapi juga genit ya? Only God Knows?”

(Wah, gimana caranya nih ngirim e-mail ke God?)