Friday, March 18, 2011

GENGSI NGGA BIKIN KITA JADI LEBIH BAIK MAN…!

Dari sekian banyak etnis di Indonesia, mungkin orang Minahasa bisa masuk rangking 3 besar kalo diukur dari perspectifnya terhadap nilai-nilai kegengsian (gila…saya pake bahasa apa nih..hehe..?).  Makanya falsafah ‘Biar kalah nasi, yang penting jangan kalah aksi.’  masih sukses diwariskan dari generasi ke generasi.  Apa maksudnya…? Kurang lebih : biar ngga makan, yang penting gaya. Yang penting keren.  Sakti ngga tuh..? Ngga perduli gajinya 4 juta sebulan, yang penting punya property di Citra Land. Padahal, harga sebiji rumah di sana paling murahnya 400 jutaan. Mamamia. Bayar pake bulu ketek om…..hehehe….demi tradisi gengsi.

Waktu pertama kali tinggal di Manado, saya sempet kaget saat berkunjung ke salah satu rumah family, yang boleh di bilang hidup di bawah garis kemiskinan.  Bukan melecehkan, tapi faktanya begitu koq.  Rumahnya beratap daun enau. Dindingnya dari tripleks tipis. Lantainya tanah.  Apa namanya kalau tidak di bawah garis kemiskinan.

Karena saat itu masih suasana Natal, orang muda wajib mengunjungi yang lebih tua. Yang bikin saya kaget, waktu mereka mengeluarkan hampir selusin toples kue yang berbeda, dengan minuman berupa soft drink botol. Padahal, waktu masih di Jakarta, tiap saya silaturahmi ke kerabat yang  Idul Fitri-an, Cuma sedikit yang menyajikan soft drink. Kebanyakan limun, atau sirop, yang harganya lebih murah. Padahal, mereka termasuk pada keluarga menengah.  Saya yakin bukan karena pelit. Namun sederhana. Karena tamu yang akan datang mungkin cukup banyak. Jadi, penyajian soft drink  membutuhkan biaya yang besar.

Tapi di Manado, para tamu sering sewot kalo disugguhin sirup, ato limun. “Bikin perut semutan” Begitu sindiran umum yang terucap. Jadi klop deh. Tamu sama tuan rumah sombongnya ngga ketulungan. “Ini kan acara setahun sekali. Wajar lah kalo kita keluarin uang agak lebih.” Paling itu dalih yang diucapkan.
Biasanya, 2 bulan sebelum dan 1 bulan sesudah Natal, yang namanya Pegadaian panen besar. Karena kebanjiran nasabah yang menggadaikan emas, hingga TV, demi pesta pora 'berselubung' perayaan iman tersebut.

Dikesempatan lain, saya mengenal seseorang yang gajinya saya tahu persis. Tidak lebih dari 4 juta sebulannya. Luar biasanya, dia kredit 2 buah mobil baru sekligus.  1 panther open kap, dan Toyota kuda kalau tidak salah. Cicilan ke-2-nya 6 juta sebulan. Alhasil, dia selalu main kucing-kucingan sama dealer.  Security tempatnya kerja jadi lihai berdusta tiap ada dealer yang mencari bosnya. Di tempat kerja banyak bengong kayak ayam sakit, mikir gimana caranya supaya mobil  kebanggannya bisa bisa tetap show force di garasi, yah setidaknya untuk 1 tahun di acungin jempol kolega dan tetangga. Mirip jempol di FaceBook. Ntar tinggal ngomong “thanks jempolnya ya say”

Ada juga seorang pendidik yang gelarnya udah ‘mentok’. Waktu sukses nggondol gelar akademik tertinggi-nya di luar negri, dia beli mobil baru.  Ironisnya, beberapa bulan kemudian ia dan keluarganya diusir pemilik rumah kontrakan yang ditempatinya, karena nunggak lebih dari 5 bulan. Alamak. Rupanya sang Dosen belum punya rumah sendiri.

Saya cuma bisa senyum mendapati kisah-kisah nyata tersebut. Saya mahfum akan salah satu kebutuhan rohani tiap orang, yakni kebutuhan untuk DIHARGAI. Tapi kan bukan artinya membumi hanguskan nalar berpikir. Mengedepankan gengsi. Akhirnya, kelakuannya malah menunjukan bahwa yang bersangkutan belum siap dengan semua yang dimilikinya, alias bermental kere. Berantem sama kasir Mall yang salah mulangin kembalian Rp 200 (dua ratus rupiah), lapor ke polisi persoalan buah papaya 1 biji yang diambil nenek yang kasihan sama cucunya yang kelaparan, nempeleng pelayan restoran karena melayani orang yang datang sesudahnya, nyewa bodyguard untuk nggebukin kakek yang salah nangkep ayam yang dikira ayam miliknya, serta banyak kejadian konyol lain yang justru bikin seseorang yang merasa dirinya kaya, atau disangka kaya, sesungguhnya tidak lebih baik dari pengemis.

Demi gengsi. Banyak orang yang lebih memilih menggadaikan harkat dan martabatnya, yang justru merupakan harta tak ternilai, demi performance. Demi penampilan luar yang kerap menipu. “Seperti kuburan, yang bagus di luar, tapi penuh tulang belulang di dalamnya” begitu kata ahli Kehidupan.

Sebenarnya, gengsi tidak selamanya buruk. Selama gengsi diarahkan pada sesuatu yang benar. Loh koq? Iya, kalo kita gengsi untuk melakukan korupsi, gengsi untuk selingkuh, gengsi untuk menelan hak-hak orang miskin, itu kan gengsi yang positif. Bukannya gengsi karena ngga punya mobil kaya para tetangga.  Ato gengsi karena ngga makan di AW, McDonald, ato Hoka-Hoka Bento.

Ironisnya, kita lebih menyukai gengsi yang negative ketimbang positif. Padahal, gengsi ngga akan bikin kita jadi lebih baik. Trust me…! It works…   


Keagungan lebih sering ditemui di balik kesederhanaan-Anonym