Wednesday, March 9, 2011

BUAH JATUH JAUH DARI POHON

Beberapa waktu lalu saya pernah terlibat perbincangan menyangkut karakter  negative seseorang yang kita kenal. Lalu salah satu teman bilang: “Ah, kakeknya begitu, yah begitu juga cucunya.”

Wah kasihan juga ya kakeknya udah lama meninggal, masih juga di bawa-bawa. Masih juga dimintai pertanggung jawaban atas kelakuan cucunya, yang mungkin aja kebetulan punya kelakuan yang sama dengan sang kakek. Padahal, bisa aja para turunan kakek telah mengalami pencerahan, yang memungkinan mereka memutuskan untuk tidak meniru kelakuan si-kakek.

Memang ngga bisa disalahkan juga sih kalau sebagian besar orang memiliki opini yang sama tentang karakter. khususnya yang bernuansa negative.  karena kita sering dikondisikan demikian. Kelakuan seseorang, pasti  ‘diwariskan’ dari generasi sebelumnya. Like father, like son

Kalau bapaknya pemarah, si-anak juga pemarah. Bapaknya penipu, anaknya pasti jadi penipu juga. Bapaknya doyan selingkuh, anaknya juga harus doyan. Koq rasanya ngga adil ya. Seolah si-anak udah dicetak tanpa kehendak bebas sebagai pribadi.   Genetika sih tinggal genetika. Padahal ilmu pengetahuan sendiri membuktikan kalo gen itu sendiri sering mengalami perubahan, alias mutasi gen.  logisnya begitu juga dong sama karakter.

Saya punya pengalaman yang sama sekali bertolak belakang dengan ide ‘buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’.  Secara kebetulan, saya mengenal baik ayah maupun anaknya.  Ayahnya seorang pendidik yang sukses di dunianya. Begitu disiplin dengan segala aturan ideal sebagai warga masyarakat.  Sangat concern dengan penampilan.  Tegas . Tapi segalanya bertolak belakang sang anak yang bahkan memiliki wajah yang mirip dengannya.

Ketika saya mengemukakan fakta tersebut pada anaknya yang kebetulan masih punya hubungan keluarga dengan saya (soalnya saya memanggil ayahnya dengan om, hehehe…), saya menemukan jawaban yang mengejutkan.  Karena ayahnya tergolong mampu secara ekonomi, jadi dengan kesadaran yang ia tumbuhkan atas dasar kehendak bebas sebagai pribadi, dirinya justru ‘menciptakan’ karakter yang seperti aliran sungai. Mengalir. Tidak terlalu ngotot dalam mencapai sesuatu, atau mempertahankan sesuatu. Bahkan ketika sang ayah menghibahkan sebagian kekayaannya pada sebuah panti asuhan, ia hanya berkata santai  “dia memang ayah saya, tapi bukan berarti semua yang ada padanya harus ada pada saya. Kita punya kehidupan dan keinginan masing-masing. Jadi kita harus punya cara sendiri untuk menjalaninya.”

Walau terkadang heran dengan ketidak kemiripan karakter antara dirinya dengan kedua orangtuanya, namun respek saya padanya tidak berkurang. Karena perspectifnya terhadap nilai-nilai kebaikan dan prinsip kehidupan, lahir atas kehendak bebasnya sebagai pribadi. Bukan karena anak sang ayah.

Sambil bercanda, seorang teman pernah berkata pada saya kalau buah memang tidak selalu jatuh jauh dari pohonnya. “Kalau pohonnya tumbuh di pinggir sungai, kan buahnya di bawa aliran air .” hahaha….bisa aja

Dalam perenungan akan hal ini, saya sering melihat kenyataan betapa banyaknya orangtua sederhana di pedesaan yang rela membanting tulang demi mensekolahkan anak-anaknya hingga pendidikan tertinggi yang mampu digapainya. Saya terharu. Terharu karena tanpa penjelasan panjang lebar, para orangtua menyadari kalau mereka kurang mendapat bekal pengetahuan yang cukup dari orangtua mereka. Pengetahuan yang dapat memback-up perspective berpikir mereka dalam pembentukan karakter. Dan mereka tidak ingin semua hal tersebut juga dialami anak-anaknya.

Karena karakter, dalam banyak hal justru sering di bangun dari sebuah pondasi berbasis perspective berpikir. Bukan,..bukan karena tingkat intelektual. Itu adalah kasus yang berbeda. Misalnya, seorang yang tidak tahu bahwa virus HIV hanya bisa ditularkan lewat darah, cenderung untuk menghindari para penderita AIDS. Atau bahkan bergabung dengan para demonstran yang melarang kaum gay dan homoseks bekerja di sebuah instansi. Sikapnya terhadap kaum gay dan homoseks dibangun dari minimnya pengetahuan tentang penularan virus HIV. Bukan dari kebaikan hatinya. Karena ketika ia mengahui hal yang sebenarnya tentang HIV, niscaya ia akan merubah sikapnya.

Ketika seseorang tahu bahwa mendidik anak dengan kekerasan tidak berdampak positif pada perkembangan mental anak, maka ia bebas untuk memilih sikap dalam mendidik anak-anaknya. Walau secara pribadi ia sendiri mengalami perlakuan buruk dari orangtuanya.

So, dengan begitu kita bisa bersikap bahwa ‘buah jatuh bisa saja jauh dari pohonnya’ (jadi, tanamalah pohon yang punya buah, di pinggir sungai…hehehe..) 

(sambil memandangi dua gadis kecil saya yang telah terlelap, saya berharap,..mereka tidak jadi pendaki gunung seperti saya..mmhhh,...semoga)