Thursday, December 16, 2010

PERBAIKAN INTEGRITAS ADALAH SEBUAH PR

“Siapa anda, dapat diketahui dari teman-teman anda.”                                                    
Dulunya saya mengira arti statement tersebut adalah: deskripsi tentang anda bisa anda cari tahu dari penuturan rekan-rekan anda. Tinggal kirim sms, trus Tanya:”Eh, kamu kan kawannya si-anu. Gimana sih dia orangnya?”
Sms balesan datang:”oohh dia tuh tinggi, gendut, giginya udah banyak yang ompong, sok tahu, lebay, jarang mandi,.bla..bla…”

Ternyata persepsi saya salah besar, karena arti statement tersebut lebih cenderung pada strata, kelas, atau level. Dengan kata lain, pada level mana anda berada, tergantung dengan siapa anda menghabiskan waktu keseharian anda. Apakah dengan Kepala Dinas, Pengusaha besar, Bupati, Gubernur, atau malah buruh pabrik.
Kalo temen-temen kita adalah para sutradara, koreografer, pelukis, satrawan, pastinya kita akan dicap sebagai seniman. Atau, kita akan dikelompokan sebagai pengusaha kalo kita berteman dengan anaknya Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla, Surya Paloh, atau anaknya Eka Cipta Wijaya.
Tapi yang jadi masalah adalah, saat teman-teman yang kita miliki terdiri dari mucikari, tukang bakso, tukang sayur, fotografer, dosen, pengusaha, wakil bupati, bankir, buruh pabrik dan tukang pijit, lalu kita akan di cap sebagai apa? Hahaha……Rohaniawan mungkin.
Diakui atau tidak, walau hal ini terlihat secara samar, tapi fenomenanya memang begitu. Banyak dari kita yang memandang masih perlunya pengklasifikasian jenjang sosial dalam kehidupan bermasyarakat, dalam terminology kelas atau level.  Ayam Cuma berteman dengan ayam, dan kuda hanya berteman dengan kuda (ya iyalah,. ...masa sih ayam berteman dengan buaya,..ntar di telen kaleee…Hehe…)

Padahal kalau saja kita mau belajar dari sejarah, pastilah kita ingat mengapa kita bisa di jajah para kompeni alias Belanda, selama 350 tahun. Bukankah penyebabnya adalah perjuangan yang di dasarkan atas kelompok-kelompok, atau level-level daerah, sehingga dengan mudahnya diacak-acak para Londo dengan politik Devide Et Impera-nya. Koq masih juga suka meng-eksklusivkan diri ya?
Daripada kita sibuk berpikir untuk mendongkrak ‘kelas dan level’ kita, hingga berakhir seperti kasus Gayus Tambunan,  mungkin jauh lebih baik kita belajar untuk memperbaiki karakter dan integritas pribadi, yang dimulai dari rumah kita masing-masing. Pada anak-anak kita. Hingga kelak kita bisa dengan bangga menciptakan statement pengganti: “Siapa diri kita yang sesungguhnya, dikenali dari integritas pribadi kita.”