Thursday, December 16, 2010

MENGGAPAI PUNCAK KEHIDUPAN

Saat masih aktif bertualang dari gunung ke gunung, saya merasa,  jika mendaki  gunung baru dengan tuntutan ‘harus’ sampai puncak, seolah ada beban tambahan yang membuat gunung itu bertambah tinggi. Berbeda jika saat memulai pendakian , saya hanya ingin menggapai puncak, tanpa disertai beban ‘harus’. Kenapa? Saya tidak tahu persis. Mungkin berkaitan dengan sebuah area dalam diri kita yang disebut sebagai ‘mental’.

Saat saya mendaki tanpa disertai  embel-embel ‘keharusan’, saya melakukan pendakian  dengan penuh keriangan. Step by step.  Karena saya percaya bahwa puncaknya tak akan berpindah dari tempatnya, hanya karena saya terlambat 3 jam, 24 jam, atau menundanya sekalipun. Kecuali saya berhenti mendaki. Namun selama saya tetap mendaki- walaupun hanya 2 langkah lalu istirahat- niscaya saya akan tetap sampai pada puncaknya.

Saya percaya,  sebagian besar orang berusaha mencapai ‘puncak gunungnya’ masing-masing dalam hidup mereka. Entah dalam bentuk harta yang melimpah, jabatan ataupun karir.

Sebuah ‘keharusan’ dalam mencapai ‘puncak’ kerapkali dihubungkan dengan kebanggaan, atau penerimaan .  Kalau saya mencapai ‘puncak’, orang akan mengaggumi saya. Saya akan lebih dihormati. Prestise saya akan meningkat di tengah masyarakat.”

Dalam ‘keharusan’ tak jarang seseorang akan melewati ‘jalur-jalur negatif’ yang melanggar norma-norma kepatutan dan  norma hukum.  Bahkan dalam dialetika ‘keharusan’ sering di dapati, seorang akan mengalami kepenatan psikis jika tak mampu memenuhinya.

Seorang anak yang dituntut ‘harus’ juara 1 oleh orang tuanya, akan melalui sebuah proses yang baginya ‘menyakitkan’, karena juara 1 bukan kesenangan pribadinya, melainkan ‘keharusan’ yang dipikulnya.

Begitupula dengan orang yang merasa ‘harus’ mencapai puncak karier demi penerimaan dari tetangga, teman atau orangtua. Mereka cenderung over protective, bahkan tak jarang menghalalkan banyak hal. Termasuk menggadaikan integritas.

Orang-orang dengan karakter yang kuat, melakukan sesuatu tidak di dasarkan atas ‘keharusan’, melainkan keinginan.  Bukan ‘keharusan’-lah yang menggerakan Thomas Alva Edison untuk jadi  penemu lebih dari 1000 ‘item’ paling legendaris sepanjang sejarah.

“Hidupku bagaikan aliran sungai yang semakin hari semakin deras.” Adalah ekspresi keinginan  yang diejahwantahkan dalam bentuk karya nyata, sehingga membawa Dahlan Iskan sebagai CEO Jawa Post, serta Dirut PLN yang inspiratif. 

Keinginan pulalah yang mendorong anak muda brilliant ‘penemu’ Facebook menjadi salah satu anak muda paling sukses.           

Salah satu mantan ‘guru’ saya, merasa nyaman dengan gelar S2 yang telah begitu lama di sandangnya, tanpa merasa ‘harus’ menggapai S3, yang bahkan telah dicapai oleh puluhan bekas anak didiknya. Ia bahagia dengan ‘puncak’ yang telah di capainya. Dan ia bahagia menjadi ‘acces’ lahirnya puluhan S3.

(Terkadang, feeling dalam menentukan jalan yang harus dilalui guna menuju puncak juga berperanan penting . Karena, walau kita tahu bahwa jalan ke puncak  adalah keatas, namun faktanya, perjalanan menuju puncak gunung terkadang harus melewati  ‘ punggungan’ bahkan justru  menuruni lembah,  baru kemudian naik lagi)

Ada beberapa tipe orang dalam mencapai ‘puncak kehidupannya’

a.   Tipe Guide. Para Sherpa di Mount Everest, tahu persis jalur ke puncak. Tapi mereka hanya  membantu membawa barang, sekaligus menunjuk jalan para pendaki.  Mereka pernah mencapai puncaknya. Kebahagiaan Tipe Guide akan terpenuhi saat yang diantarnya berhasil mencapai puncak.
b.  Tipe Pendaki pemula. Cirinya: Semangat menggebu, mental payah, tidak punya data yang lengkap tentang jalan menuju puncak.  Peluangnya untuk mencapai puncak adalah fifty-fifty. Tipe ini adalah orang yang tidak pernah konsisten menekuni kariernya, dan senantiasa berganti profesi.

c.   Tipe Pendaki musiman. Walau tipe jenis ini memahami seluk beluk pendakian, dan pernah beberapa kali mencapai puncak, namun baginya mendaki gunung bukanlah panggilan jiwanya. Karena prosesi pendakian hanyalah mengikuti trend semata, alias musiman.
d.   Tipe Pendaki sejati. Adalah orang-orang yang baginya mendaki gunung merupakan panggilan jiwa. Hingga ‘ritual’ pendakian bukanlah beban bagi dirinya, melainkan sebuah seni petualangan yang dilakukan dengan kesenangan dan keriangan hati. Ia tidak diikat oleh ‘keharusan’ apapun, sehingga ia begitu menikmati tiap langkahnya. Tak perduli jasadnya menyatu dengan apa yang dicintainya. Alm. Norman Edwin dan Didiek Syamsu, adalah contoh  pendaki sejati yang tewas di Gunung Aconcaqua, Argentina.

“Tuhan menyukai orang yang berani” merupakan moto para climber. Berani berpijak pada apa
yang diyakininya. Karena, seorang yang tak memiliki keyakinan, sesungguhnya ia tak punya apapun yang bisa di banggakan.