Wednesday, December 8, 2010

HIDUP ADALAH PERJALANAN DALAM PENANTIAN

Di jalanan Girian, kota Bitung. 

Selasa, 30 Nopember 2010. Pukul 23.30

Entah apa yang membuat saya ingin menikmati malam di jalanan saat ini. Tanpa banyak pertimbangan, saya pacu smash butut hadiah bos, tuk merayapi kesunyian aspal Girian. Sambil menunggu sepiring nasi goreng yang diracik pemuda berlogat Jawa kental, saya ‘memanggil kembali’ memori dalam sel-sel  otak saya.

Satu demi satu file-file ‘uzur’ berkelebat di kepala. Mulai dari kisah Taman kanak-kanak, hobi ayah yang kerap mengajak saya nonton bioskop di daerah Palmerah,  masa remaja yang syarat dengan fantasi, petualangan anak muda menyerempet bahaya, bergaul dengan wanita, bekerja sebagai buruh pabrik, menikah, punya anak yg menggemaskan, dst.

Saya mencoba mencari ‘sesuatu’ yang saya sendiri tidak tahu apa, hingga dengan terlambat menyadari, bahwa ternyata hidup adalah sebuah ‘antara’ yang memisahkan dua kata: Kelahiran dan Kematian.

Ketika kita dilahirkan, dan menyadari kehidupan, ternyata kita tinggal menunggu kematian. Artinya, proses menjalani kehidupan, sesungguhnya hanya sebuah ‘selingan’ panjang dalam penantian akan kematian.

Suatu ketika saya melihat kehidupan penyu. Sang induk bertelur di pasir, lalu telur menetas, dan penyu-penyu kecil berlarian menuju laut. Ada yang berhasil, namun tak sedikit yang mati. Lalu, yang hidup akan mencari makan, tumbuh dewasa, kawin, bertambah banyak, dan mati. Tak ubahnya dengan siklus hidup kita, manusia.

Saya kembali merunut waktu-waktu yang telah saya lewati, dan mencoba memaknai ‘selingan’ ini. Ah,  apa bedanya saya dengan hewan, jika pada ‘perjalanan dalam penantian’ ini hanya saya isi dengan ‘ritual’ mencari makan, kawin, bertambah banyak dan mengumpulkan harta..??

Faktanya, saya memang tidak mungkin menolong semua orang yang membutuhkan saya. Tapi setidaknya, saya sudi membagi beberapa sendok nasi yang tengah saya makan, pada orang di dekat saya, yang memang menderita karena rasa lapar. Bukan,…bukan karena saya harus. Namun karena saya ingin. Bukan karena saya ingin dicap sebagai dermawan, namun karena panggilan hati yang tulus dan ikhlas.

Saya tidak pernah sungguh menyadari, mengapa Indonesia memiliki pahlawan. Mengapa dunia punya Thomas Alva Edison, Hellen Keller, Mother Theresa, Mahatma Gandhi, hingga saya paham makna ‘selingan’ pada ‘perjalanan dalam penantian’.  Hingga saya paham, bahwa berbagi, adalah kosa kata terindah yang tak akan pernah usang dalam peradaban kita, manusia.

Sebaris kalimat pernah saya baca pada sebuah kaos: “Kualitas kemanusiaan kita tidak diukur dari seberapa banyak yang kita kumpulkan. Namun dari seberapa besar kita memberikan arti bagi kehidupan itu sendiri”

Sederhana memang. Tapi dipikir-pikir, mungkinkah kita mengaku beribadah pada Tuhan yang tidak terlihat secara fisik, jika faktanya kita membuat manusia lainnya seolah ‘tiada arti’…?

Malam semakin beranajak, dan temaram lampu mulai meredup. Beberapa kios bersiap untuk tutup. Di seberang jalan, 2 orang bocah mendorong gerobak, berpindah dari satu tong sampah ke tong lainnya, mengais sisa siang yang hingar bingar kampanye salah satu pasangan Walikota dan wakilnya.

Saya termanggu dalam kegamangan. Ah, aku harus pulang, menemui orang-orang tercinta, dan….kembali dalam ‘selingan’