Friday, September 2, 2016

Dukun Ikan Indonesia Itu Namanya Susi Pujiastuti



Mulanya gue memproklamirkan diri sebagai salah satu ‘Susi Mania’ alias pendukung Susi hingga ke sumsum tulang.  Gue sungguh terperangah sama sepak terjangnya yang gemulai tapi mematikan.  Mirip ubur-ubur dengan sengatan mautnya.
gbr dari google. Kalo ini bkn slengean, trus apa ?

Gue terkesima sama style slengeannya yang sedikit banyak memporak porandakan paradigma  umum bahwa seorang pejabat tinggi negara haruslah berwibawa, bersahaja, dan ‘terlihat smart’.

Gila kali, masa mentri perempuan ngerokok di depan umum.  Udah gitu badannya penuh tattoo lagi

Adalah kalimat nelangsa yang memendam kekuatiran atas dasar keyakinan bahwa tampilan luar adalah gambaran kinerja seseorang. Konyolnya, mindset tersebut tersebar diam-diam via sms di banyak kalangan, manakala namanya didaulat memegang tampuk tertinggi Kingdom kelautan dan Perikanan Indonesia.
gbr dari google. Liat noh tatto kerennya...!

Tapi gue malah senyum dan tepuk tangan karena merasa ‘sealiran’.  Sesama komunitas pemegang pepatah “orang saraf di sayang Tuhan,”…hahaha.  Hidup Susi Pujiastuti.  

Kloningan nabi Musa modern udah lahir di Indonesia. (nabi Musa kan pernah membelah laut cuma dengan tongkat)

Gue  ngga perduli kalo doski ‘cuma’ tamatan SMU.  Gue juga tetap ngga perduli ketika  90% akademisi bergelar minimal S2 (berdasarkan survei imaginer gue) mengaum sembunyi-sembunyi sambil mempersiapkan cakar dan taring mautnya guna mencabik-cabik semua kebijakan Susi.  Dan gue juga tetep tutup telinga ketika 80% jajaran di bawah komandonya (masih menurut survei imaginer gue koq) ngedumel diem-diem sambil baca mantra dan ngunyah permen dengan rasa kemenyan, supaya si Susi lengser ke tempat paling hina di pemerintahan.

Bahkan gue tetap anggep angin lalu, waktu tersiar kabar kalo 75% pengusaha penangkapan besar (halooo,…ini juga survei imaginer gue)  rela membagi 40% sahamnya, buat para sniper-sniper pemegang medali emas olimpiade cabang menembak yang punya nyali buat mbidik otak Susi, yang konon ter- setting ala suku Indian Sioux (salah satu suku Indian yang pernah hidup di pedalaman Siau, Sangihe).     

Sayangnya, teguhnya keyakinan gue ke Susi memudar perlahan seiring memburamnya dunia perikanan Bitung.  Manakala makin banyak pekerja terduduk lemas di rumah, bingung bagaimana caranya bayar cicilan rumah, cicilan motor, hingga transport anak-anak ke sekolah.

Keyakinan gue semakin gamang seiring bangkrut dan di jualnya beberapa pabrik pengolahan ikan di Bitung yang beberapa taon lalu, bahkan mimpipun sulit melintas.

Perlahan, sosok Susi justru berubah bagai Thor,-salah satu personil Avenger, yang doyan nenggelamin kapal pake Palu gedenya.

(padahal gue sempet berharap kalo Susi sedikit fleksibel, misalnya dengan meng-Indonesiakan kapal-kapal eks asing yg besar, tapi di awasi dengan memasang bom yg pemicunya di kendalikan pake satelit.  Ntar kalo ada yang keliatan mbalelo, suruh turun semua abk, naek sekoci, trus kapalnya langsung,…byuaaarr…ancurin dari jarak jauh.  Kan jadi lebih dramatis,…hehehe)  

Akhirnya, di suatu malam, waktu mau tidur, gue terbayang tawa Susi.  Tawa yang di otak gue semula gue yakinin bakal bikin Bitung ‘gemah ripah loh lautwi’  Tawa yang semakin pudar seiring malam, juga tawa yang entah kenapa memaksa otak gue menerima sebuah bisikan kalau Susi sebenarnya adalah titisan dukun ikan masa lalu dalam mitologi dewa-dewi Yunani.


Haaayeeemmmm,….semoga mimpi berubah indah,..dah,…dah,..dah

Tuesday, August 9, 2016

Soal Makan Pake Aja ‘Aturan Emas’ Pendaki Gunung



Belakangan, kalo loe sering mbuka internet, di jamin loe bakal sering di bingungkan sama begitu banyak aturan dan ketentuan  tentang makanan yang boleh dan ngga boleh (btw, gue ngga mbahas soal agama dan makanan loh,..jgn salah) , ato sehat dan ngga sehat.  Dan ujung-ujungnya, kita-kita yang tergolong awam cuma bisa geleng kepala dalam kegamangan panjang yang menjengkelkan. ‘ehm,…kira-kira kalajengking sama kecoa boleh ngga ya ?’……hehehe….

Emang kalo ngomong soal makan, perjalanan berburu umat manusia kan baru berhenti manakala kita masuk ke liang lahat, dan gantian kitanya yang jadi menu cacing.  Bahkan data internasional yang pernah gue baca taon 2015 ngungkapin kalo anggaran belanja manusia sejagad untuk makanan menempati rangking 1, dengan prosentase 75 – 80%.  Wajarlah, masa anggaran operasi plastic sama parfum yang lebih tinggi.

Ah kita balik ke topik utama aja.  Jadi gini, menurut gue (catat, menurut gue,…yang nulis ini), ketimbang kita selalu merasa terbodohkan oleh banyaknya asumsi, opini, dan keyakinan tanpa dasar jelas soal makanan sehat dan ngga sehat, ato boleh dan ngga boleh, mendingan loe pertimbangkan saran gue soal makanan, dengan merujuk pada ‘aturan emas’ para pendaki gunung yang tersesat.

Sebagai eks pendaki gunung  yang pernah tersesat  (tapi tidak lama), gue pernah di suguhin metode bagaimana mengatasi lapar pada saat tersesat di gunung dan kehabisan makanan.  Nidia:

Pertama, semua buah, umbi-umbian,  biji-bijian, dan daun yang di makan hewan menyusui dan burung di hutan, aman kita makan.  Yah caranya gampang koq, tinggal liat aja remah-remah, ato sisa-sisa makanan yang bekas di makan monyet, kelelawar, tikus hutan,  ato burung.  Tapi ya mbok jangan bodoh toh, dalam artian, bukannya makan sisa-sisa binatang-binatang tersebut.  Cari yang masih utuh lah.  Tapi ya bukan di carfour ato supermarket lain, kan ini ngomongnya di hutan.
gue comot dari google: kampret kesiangan

Saya yg awam ini belom denger ato baca ada monyet, kelelawar, tikus, ato burung di hutan  yang kena kanker, kolesterol, diabetes, ato hipertensi.  Hehehe,…mereka kan jarang, ato ngga pernah makan mi bakso, pangsit, martabak, pizza, burger, kfc, msg, dan minum coca cola, ato sejenisnya.
 
Kedua, jangan makan satu jenis makanan dalam jumlah banyak, tapi makanlah banyak jenis makanan dalam jumlah yang sedikit.  Kenapa ? Kan tujuan makan waktu tersesat supaya ada energy buat kembali ke jalan yang benar, alias tidak tersesat lagi.  Selain itu, kalo kita makan satu jenis makanan dalam jumlah banyak, terus ternyata makanan tersebut beracun, kan berarti efek racun jadi lebih gede porsinya.  Beda kalo makan sedikit jenis dalam jumlah sedikit.

Ketiga, setiap makanan yang masuk ke perut, harus senantiasa di imbangin pasokan air minum yang cukup.  Tapi air minumnya cuma air putih, bukan milkshake, bir, wine, ato coca cola.  Hehehe,…gitu dulu yo, gue mau makan gado-gado dulu. 

Kabar baik dari gue: “Jangan pernah berhenti buka internet, karena dengannya, loe bisa keliling dunia walau Cuma dari tempat duduk.  Dari internet, loe bakal banyak tau bahwa manusia adalah keajaiban yang tiada taranya.  Salah satu yang unik, gue persembahkan buat all of you,..tapi harus klik ini:  https://youtu.be/O70Ww9vzjvg  

Friday, March 25, 2016

Ngga Semua Kisah Berakhir Indah



Gue buka sama lagu asyiknya Jikustik nih,…nyanyi bareng yoooo

Akhiri ini dengan indah


Aku tak kan pernah jadi sempurna
Ingin aku tetap seperti adanya
Jangan salahkanJika diriku mengabaikanmu
Sebuah alasan yang sungguh sempurna'tuk tinggalkanku

Reff:…..Ketika slamanya pun harus berakhir akhirilah ini dengan indah
Kau harus relakan setiap kepingan waktu dan kenangan
Ketika pelukanku pun tak lagi bisa menenangkan hatimu yang sedih
Aku memilih 'tuk mengakhiri ini dengan indah

Engkau mencoba menahan isak tangis yang dalam
Dengan sisa-sisa ketegaran yang masih kau simpan

Back to Reff…………….

--------------------------ooo-----------------------

Pastinya bnyk dong dari all of you yang pernah denger lagunya Jikustik ini. So sweet toh ?

Demi kepentingan temanya, syair lagu tersebut memang harus terdengar manis: berakhir dengan indah  Tapi toh ngga semua akhir haruslah indah,  karena terkadang, sesuatu harus mati demi sebuah hidup yang baru.  Sesuatu memang  harus berakhir,  tanpa perduli indah atau tragis, manis atau kecut.

Berakhir dengan indah tentunya merupakan impian sebagian besar manusia: Lulus dengan nilai tertinggi,  pensiun dengan jabatan puncak, dan uang melimpah, dikalungi medali emas untuk cabang olah raga yang di gelutinya, memperoleh hadiah pulitzer,  mengantongi predikat best seller untuk karya-karyanya, Cum Laude, meraih gelar Profesor, atau setia dengan pasangan hidupnya hingga maut memisahkan,

Itu sebabnya  kebanyakan kita kurang suka nonton film yang tokoh utama atau jagoannya mati di bagian akhir.
foto diunggah dari Google. 1 dari 10 pemenang Pulitzer, ttg bocah yg mencari orang tuanya.

Istri saya terlihat sedih ketika mendengar tokoh idolanya sejak muda,-Koes Hendratmo, bercerai dengan istrinya setelah 25 tahun menikah.

Kitapun harus dicengangkan oleh kisah yang tidak berakhir indah manakala hingar bingar pesta yang semula  begitu spektakuler, harus diakhiri  dengan catatan kelam tokoh-tokoh terkenal dan terhormat di negri ini, kayaq Anas Urbaningrum, Sutan Batoegana, Ratu AtutChosiyah, Anglina Sondakh, Antasari Anhar,  Surya Dharma Ali, Dr. Andi Malaranggeng, Miranda Goeltom, Rudi Rubiandini, Aulia Pohan, hingga  O.C Kaligis, dimana mereka harus dipermalukan  karena dipaksa memakai pakaian ‘tahanan’ di bawah sorot kamera  yang pernah memandikannya dengan kehormatan dan taburan bintang.

Kita begitu terobsesi oleh pandangan ‘hendaknya segala sesuatu  berkahir  dengan Indah,’ walau dalam kesadaran yang terlupakan, kita tahu bahwa terkadang  sesuatu harus mati dan berakhir tidak indah, demi sebuah kehidupan yang baru.

Di dunia Perikanan, kisah hidup ikan Salmon menyiratkan dengan jelas  konsep tersebut. 

Setelah ribuan mil mengarungi lautan, sang Salmon harus mengakhiri petualangan indahnya dengan kembali ke sungai,- tempat mereka memulai hidupnya sebagai Salmon kecil,  untuk bertelur , lalu mati demi kelangsungan keturunannya. 

Menakjubkannya, tradisi tersebut tak pernah di putuskan oleh keturunannya selama berabad-abad.  Para Salmon tahu persis arti sebuah ‘akhir tanpa mahkota’ 

Kisah mahluk-mahluk raksasa kayaq dinosaurus, dan sebangsanya, juga harus berakhir, guna mempersiapkan hadirnya mahluk termulia bernama manusia.  Karena jika tidak, manusia bakal jadi salah satu dari 4 sehat, 5 sempurnanya para Dinosaurus.

Bahkan Adolf Hitler-pun harus menerima takdirnya untuk mengkahiri perjuangannya dengan kegetiran, demi menghindarkan kita yang hidup saat ini, dari balutan kengerian mencekam.


Cornelis De Houtman dan rombongan Belandanya toh harus mengakhiri mimpi indahnya secara tidak indah demi kemerdekaan Indonesia. 


Begitu juga dengan kedigdayaan Jepang yang semula bakal menuai kisah indah, harus berakhir ironis dengan bom atom yang jatuh di Hiroshima & Nagasaki.

Bahkan, kalau William Sheakespeare mengakhiri kisah Romeo & Julietnya dengan indah, mungkin ngga akan melegenda sepanjang masa.


Pada akhirnya, kita yang mengklaim sebagai mahluk tercerdas di bulatan bumi, harus menerima fakta kalau kecerdasan luar biasa yang kerap kali mencengangkan dunia manusia, tak pernah mampu membuka sebuah paket misterius tentang sebuah akhir perjalanan.  Akhir kehidupan.

Kita yang sukses menciptakan tekhnologi super canggih, justru dengan arogannya tengah berusaha mensejajarkan diri dengan Sang Khalik, padahal, harusnya kita sadar bahwa indah atau getirnya sebuah akhir, adalah sebuah Karunia dari Sang empunya Kehidupan, yakni Allah yang Maha Kasih itu sendiri.

Selamat Paskah…..